Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Identifikasi Teori-Teori Belajar Yang Cocok pada Pembelajaran Matematika

Identifikasi  Teori – Teori Belajar  yang cocok dengan matematika

By Made Nuryadi

Banyak Teori belajar yang telah dikembangkan oleh para ahli pendidikan, namun seringkali kurang cocok dengan karakteristik pembelajaran matematika. Pemilihan teori dan startegi dapat menentukan tingkat keberhasilan guru dalam mengajarkan suatu konsep baru. Pada tabel berikut ini diidentifikasi teori-teori belajar yang cocok diterapkan dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut:

No Nama Teori Belajar

Intisari Teori

Kecocokan untuk pembelajaran matematika
1. Teori belajar menurut Thorndike
(Aliran behaviorisme)
Connectionism (S-R bond)

3  hukum belajar

–   Law of Effect – Efek memuaskan à S – R kuat

–   Law of Readiness

–   Law of Exercise; – banyak latihan à S-R makin kuat

Kurang cocok karena hanya memperhatikan perubahan afektif tetapi mengabaikan perkembangan kognitif si pembelajar.
2. Teori Belajar  menurut Ivan Pavlov

(aliran behaviorisme)

Classical Conditioning

–   Law of Respondent Conditioning (hukum pembiasaan yang dituntut)

–   Law of Respondent Extinction

(hukum pemusnahan yang dituntut)

Kurang cocok  karena pada matematika tidak membutuhkan   hukum pembiasaan sa ja dalam belajar, namun butuh kemampuan berpikir.
3. Teori Belajar menurut B.F. Skinner

(aliran behaviorisme)

Operant Conditioning

–   Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

–   Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning  itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

 

Kurang cocok karena tidak memperhatikan tingkat kemampuan berpikir si belajar, stimulus penguat penting namun kemampuan dan bakat dalam belajar jauh lebih penting sebagai stimulus internal dalam belajar.
4. Teori belajar  menurut Albert Bandura

(aliran behaviorisme)

Social Learning

Perilaku individu tidak semata-mata eflex otomatis atas stimulus (S – R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri

Kurang cocok, karena interaksi antara lingkungan tidak terlalu dibutuhkan dalam matematika.  dan

Secara umum teori belajar dari aliran behaviorisme dianggap cendrung mengarahkan siswa  untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif. Sedangkan dalam matematika kreatifitas berpikir sangat diperlukan, sehingga teori belajar dari aliran behaviorisme cendrung bertolak belakang dengan prinsif-prinsif matematika.

5. Teori belajar  menurut Watson

(aliran behaviorisme)

Teori ini menjelaskan stimulus dan respon tersebut harus berbentuk tingkah laku yang “bisa di amati”. Dalam hal ini Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai factor yang tak perlu diketahui.
7. Teori belajar menurut Edwin Guthrie

(aliran behaviorisme)

Menurut teori ini, stimulus tidak harus berbentuk kebutuhan biologis. Yang penting bahwa hubungan antara stimulus dan respon cendrung bersifat sementara, karena itu dibutuhkan pemberian stimulus yang sering agar hubungan itu menjadi lebih langgeng.  Selain itu, suatu respon akan lebih kuat (dan bahkan menjadi kebiasaan) bila respon tersebut berhubungan dengan berbagai stimulus.
8. Teori Belajar menurut Piaget.

(Aliran Kognitif)

Pembelajaran dengan memperhatikan aspek-aspek perkembangan kognitif.

Dengan tahapan (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan(4) formal operational.

Cocok karena teori ini memberikan gambaran mengenai tingkat perkembangan kognitif siswa, yang berhubungan erat dengan kemampuan matematika anak dan sifat dasar ilmu matematika itu sendiri.
9. Teori belajar  menurut Gagne

(aliran Kognitif)

Pemprosesan Informasi

Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.

Tahapan  proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman;  (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali;  (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

Cocok, karena kedalam fase ini sangat dibutuhkan dalam pembelajaran matematika.
10. Teori belajar menurut Ausubel

(Aliran kognitif)

Teori belajar bermakna

Proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.

 

Cocok karena menjadikan pembelajaran matematika bermakna dibutuhkan kemampuan guru menghubungkan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa, sifat hirarkis matematika sangat membutuhkan penguasaan hubungan antara satu konsep dengan konsep lain
11. Teori Belajar menurut J.Bruner

(aliran Kognitif)

Belajar penemuan

3 tahapan penting dalam pembelajaran yaitu Enaktif (0-2 tahun), Ikonik  (2-4 tahun) and Simbolik (5-7 tahun)

Cocok, sifat hirarkis pada matematika sangat cocok diterapkan sesuai dengan tahapan-tahapan pembelajaran bruner. Namun lebih cocok diaplikasikan pada SD dan SMP
12. Teori Belajar Gestalt Menurut pandangan teori gestalt seseorng memperoleh pengetahuan melaui sensasi atau

informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunya kembali dalam

struktur yang sederhana sehungga lebih mudah dipahami.

Belajar dengan mendapatkan insight

diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalan situasi tertentu.

Insight bergantung pada:

–      Kesangupan

–      Pengalaman

–      Taraf kompleksitas dari suatu situasi.

–      Latihan

–      Trial and error

 

Relatif cocok, karena belajar untuk memperoleh pemahaman (insighful learning) sangat dibutuhkan dalam matematika. Matematika bukan hapalan tetapi lebih mengembangkan kemampuan  berpikir logis dan sistematis
13. Teori belajar menurut Clark L. Hull

(aliran behaviorisme)

Teori prilaku Hypothetico-deductive

Belajar menurut pandangan Hull merupakan perubahan tingkah laku melalui kekuatan kebiasaan. Peranan penguatan sangat diperlukan untuk terjadinya respon, dengan memperhitungkan faktor kelelahan. Hull menggambarkan bahwa belajar merupakan pembentukan antara respon dengan stimulus. Dalam hasil penelitian Hull menyimpulkan bahwa belajar terjadi tidak dengan sekali pecobaan, terjadi melalui proses pengulangan, dan terjadi karena adanya kebutuhan terhadap lingkungan untuk kelangsungan hidup. Maka belajar merupakan penguatan dengan maksud makin banyak belajar, makin banyak penguatan dan motivasi akan semakin besar untuk menuju keberhasil belajar.

Beberapa pandangan Hull, bisa diterapkan dalam pembelajaran matematika seperti belajar dengan pengulangan  sebagai suatu penguatan.
14. Teori belajar menurut Bulgenski

 

Belajar menurut Bulgenski tidak hanya atas keinginan guru atau yang harus dilaksanakan oleh guru, akan tetapi harus didasarkan oleh pengalaman, karakteristik keahlian siswa. Dalam mengidentifikasikan pengajaran terdapat empat prinsip utama menurut Bulgenski: prinsip perhatian, waktu untuk kegiatan belajar, model untuk belajar, dan kontrak hasil belajar. Keempat prinsip perlu diperhatikan oleh seorang guru dalam merancang, melaksanakan proses pengajaran agar hasil belajar dapat membentuk perubahan tingkah laku menjadi optimal. Secara umum, prinsif-prinsif teori Bulgensi dibutuhkan dalam matematika namun tidak terlalu spesifik menjelaskan bagaimana mengaplikasikan  pada sebuah materi tertentu dalam matematika.
15. Teori belajar matematis Teori belajar matematis merupakan metode penyusunan teori tertentu yang benar-benar cocok dengan teori belajar lainnya, untuk melihat kognitif, asosiasi, respon dan lain-lain. (Atkitson, Bower, dan Crother). Model pembelajaran matematis memberi kontribusi terhadap perkembangan psikologi belajar dan mengurangi kontroversi tentang permasalahan di sekitar psikologi belajar, karena data yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan sistematis. Kontribusi utama teori belajar matematis adalah mengenai proses belajar sebagai pengolahan informasi bukannya asosiasi stimulus dan respon. Kurang cocok,  sifatnya lebih mengarah psikologi belajar dan kurang menyentuh secara praktis dalam pembelajaran matematika.
16. Teori belajar konstruksi kognitif

(aliran konstruktivistik)

Teori belajar konstruk kognitif merupakan teori yang menyatakan bahwa belajar merupakan proses pertumbuhan kognitif. Pematangan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan repon dari efek stimulus. Teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentranformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan lama itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya. Teori ini cocok dikembangkan pada matematika karena pada prinsifnya pembelajar matematika menjadi bermakna karena kemampuan mandiri siswa dalam membangun pemahamannya terhadap matematika, yang dapat diaplikasikan dalam memecahkan masalah sehari-hari.
17. Teori belajar menurut Vygotsky

(aliran kontruktivistik)

 

Vigotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Matematika juga merupakan aktivitas sosial manusia, dengan demikian interaksi sosial dalam membangun pemahaman dalam matematika juga sangat diperlukan, sehingga teori ini sangat mendukung pembelajaran matematika.
18. Teori Belajar menurut Polya Teori pemecahan masalah yang dinyatakan dalam 4 langkah (fase) yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembali semua langkah yang telah dikerjakan. Sangat cocok, karena metode pemecahan masalah sangat dibutuhkan dalam pembelajaran matematika.
19. Teori Perkembangan Kognitif  Dienes

 

Pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur, memisah-misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur. Seperti halnya dengan Bruner, Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. Ini mengandung arti bahwa jika benda-benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.

Menurut Dienes, permainan matematika sangat penting sebab operasi matematika dalam permainan tersebut menunjukkan aturan secara konkret dan lebih membimbing dan menajamkan pengertian matematika pada anak didik. Dapat dikatakan bahwa objek-objek konkret dalam bentuk permainan mempunyai peranan sangat penting dalam pembelajaran matematika jika dImanipulasi dengan baik

Tahapan pembelajaran

–      Permainan Bebas (Free Play)

–      Permainan yang Menggunakan Aturan (Games)

–      Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities)

–      Permainan dengan Simbolisasi (symbolization)

–      Formalisasi (Formalization)

Sangat cocok karena penggunaan metode permainan dalam matematika sangat dibutuhkan untuk menstimulus dan meningkatkan antusias belajar siswa.
20. Teori belajar  menurut Van Hiele Teori ini mengenai proses perkembangan yang dilalaui para siswa dalam mempelajari geometri dengan melalui beberapa tingkatan perkembangan:

–      Tingkat 1. Visualisasi (pengenalan)

(Geometri dipandang secara holistik)

–      Tingkat 2. Analisis (deskriptif)

(geometri dikenal dari ciri-ciri masing-masing

bangun)

–      Tingkat 3. Abstraksi (relasional)

(siswa sudah mampu menghubungkan antara cirri

yang satu dengan yang lain)

–      Tingkat 4. Deduksi formal

(Siswa sudah tahu peranan dari pangkat, definisi-

definisi, aksioma-aksioma dan teorema-teorema)

–      Tingkat 5. Rigor (matematis)

(siswa sudah mampu melakukan penalaran formal)

Sangat cocok untuk pembelajaran matematika namun sangat spesik pada materi geometri.
21. Teori belajar menurut Bloom dan Krathwohl

(aliran humanistik)

Menurut teori ini ada 3 hal yang harus dikuasai (dipelajari) oleh siswa yaitu kognitif, psikomotor dan afektif. Taksonomi Bloom ini berhasil memberikan inspirasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran Kurang cocok, karena teori ini kajiannya terlalu abstrak dan deskriptif sehingga sukar diterjemahkan kelangkah-langkah yang praktis dan konkrit dalam pembelajaran matematika
22. Teori belajar menurut Kolb

(aliran humanistik)

Kolb membagi tahapan belajar menjadi 4 tahap, yaitu:

–      Pengalaman konkrit

–      Pengalaman aktif dan reflektif

–      Konseptualisasi

–      Eksperimentasi aktif

Menurutnya siklus belajar semacam ini terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung diluar kesadaran si pelajar.

23. Teori belajar menurut Honey dan Mumford

(aliran humanistik)

Teori ini membuat penggolongan siswa menjadi 4 golongan yaitu aktivis, reflector, teoris, dan pragmatis. Kurang cocok, karena teori ini kajiannya terlalu abstrak dan deskriptif sehingga sukar diterjemahkan kelangkah-langkah yang praktis dan konkrit dalam pembelajaran matematika
24. Teori belajar menurut Habermas

(aliran humanistik)

Habermas percaya bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dari lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi ini, dibagi tipe belajar menjadi 3 macam.

  1. Belajar tehnis (technical learning)
  2. Belajar Praktis (practical learning)
  3. Belajar emansipatoris (emancipatory learning)
25. Teori belajar menurut Landa (aliran Sibernetik) Menurut landa, ada dua macam proses berpikir yaitu

–      Berpikir algoritmatik yaitu proses berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu target tertentu.

–      Berpikir Heuristik, yakni cara berpikir divergen, menuju kebeberapa target sekaligus.

Sejalan dengan perkembangan ilmu informasi ( aliran ini lebih dekat ke psikologi dan informasi) maka aplikasi teori ini dalam matematika sekarang ini sudah banyak dikembangkan, karena teknologi informasi membuat pembelajaran matematika lebih menarik, dan lebih bermakna.

26. Teori belajar menurut Pask dan scott

(aliran Sibernetik)

Pendekatan yang diusulkan oleh pask dan scott itu sama dengan pendekatan algoritmik. Namun, cara berpikir “menyeluruh” tidak sama dengan heuristic. Cara berpikir menyeluruh adalah berpikir yang cendrung melompat kedepan, langsung ke gambaran lengkap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s