Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Wahai Guru…Gunakan Berbagai Strategi PENGUATAN sebelum memikirkan memberikan HUKUMAN

PRINSIP  PEMBELAJARAN PRILAKU  (BEST PRACTICE)

Peran Konsekuensi  (penguatan) dalam menggelola prilaku siswa di ruang kelas

Oleh Made Nuryadi

Maraknya tontonan dunia maya yang sering kali tidak sehat untuk perkembangan prilaku anak seperti tontonan di Televisi berdampak menyulitkan guru dalam mengelola prilaku siswa di ruang kelas. Banyak pendapat dari pemerhati  pendidikan menyebutkan bahwa prilaku siswa/anak-anak sekarang ini cendrung mengalami kemunduran (degradasi) sehingga dibutuhkan usaha keras oleh lembaga pendidikan (dalam hal ini sekolah) bagaimana membentuk karakter dan prilaku positif generasi muda. Berdasarkan fakta tersebut maka pemerintah telah mulai membenahi kurikulum dengan mengintegrasikan pembelajaran moral dan prilaku di kurikulum sekolah. Dalam tulisan singkat ini akan di bahas tentang bagaimana Prinsip Pembelajaran Prilaku dan best practice-nya, khususnya berkaitan dengan Peran Konsekuensi dalam menggelola prilaku siswa.

Prinsip konsekuensi merupakan implementasi dari teori pembelajaran prilaku yang dikembangkan oleh B.F Skiner. Teori ini merupakan sesuatu yang  penting dalam dunia pendidikan karena studinya tentang hubungan antara prilaku dan konsekuensi. Prinsif konsekuensi masih sangat relevan di implementasikan dalam praktek ruang kelas saat ini (baca teori B.F Skiner)

Konsekuensi adalah kondisi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang muncul sesudah  prilaku dan mempengaruhi frekuensi prilaku pada masa mendatang. Konsekuensi yang menyenangkan memperkuat prilaku dan konsekuensi yang tidak menyenangkan memperlemahnya. Dengan kata lain. konsekuensi yang menyenangkan  meningkatkan meningkatkan frekuensi seseorang terlibat kedalam suatu prilaku, sedangkan yang tidak menyenangkan mengurangi frekuensi suatu prilaku. Sebagai contoh, apabila siswa senang matematika, mungkin mereka akan lebih sering belajar matematika disbanding pelajaran lain. Sebaliknya, apabila seorang anak menganggap matematika itu susah, dan membosankan  atau mereka tidak mampu berkonsentrasi, mereka mungkin akan kurang belajar matematika, dengan memilih kegiatan lain sebagai gantinya. Konsekuensi yang menyenangkan di sebut “PENGUATAN (REINFORCER)” dan konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut PENGHUKUMAN (PUNISHER).

Dalam pengelolaan kelas, pemberian Penguatan dan Hukuman yang tepat akan dapat mengendalikan prilaku siswa sesuai yang kita inginkan.  Berikut akan dijelaskan prinsip pemberian penguatan dan penghukuman dalam proses pemelajaran.

PENGUATAN

Penguatan didefenisikan sebagai setiap konsekuensi yang memperkuat prilaku. Pemberian penguatan yang tepat akan memperkuat prilaku, begitu juga sebaliknya apabila penguatan tidak diberikan pada saat yang tepat mungkin akan menjadi mala petaka bagi guru karena mungkin ada beberapa anak  (anak lain) menganggap bahwa penguatan yang diberikan guru kepada seorang siswa melemahkan siswa lain. Guru adalah sumber utama penguatan bagi kehidupan siswa, namun seringkali guru miskin dengan penguatan dalam proses pembelajaran. Penguatan dikategorikan menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan Positif adalah konsekuensi yang menyenangkan yang diberikan untuk memperkuat prilaku, misalnya pemberian pujian, nilai, tanda bintang, dan lain-lain. Penguatan negatif adalah pembebasan dari situasi yang tidak menyenangkan, yang diberikan untuk memperkuat prilaku. Istilah penguatan negatif seringkali ditafsirkan keliru yaitu sebagai “HUKUMAN”. Salah satu cara untuk menghindari kekeliruan penafsiran ini adalah harus dipahami bahwa penguatan (baik penguatan positif atau negatif) memperkuat prilaku, sedangkan hukuman di rancang untuk memperlemah prilaku.

Seringkali sebuah teori sulit diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sebagai seorang guru, implementasi prinsip konsekuensi dalam pengelolaan prilaku belajar seringkali pula sulit diimplementasikan. Untuk itu, semoga pengalaman hasil refleksi penulis berikut  dapat membantu guru dalam mengimplementasikan prinsip pemberian penguatan di ruang kelas.

PENGGUNAAN PENGUATAN DI RUANG KELAS.

Prinsip pembelajaran prilaku yang paling bermanfaat untuk dipraktikkan dalam pengelolaan kelas yang paling sederhana adalah memperkuat prilaku yang ingin Anda lihat diulangi. Prinsip ini mungkin tampaknya sudah jelas, namun dalam praktiknya hal tersebut tidak semudah yang dilihat dan dibayangkan. Misalnya, beberapa guru mengambil sikap bahwa penguatan tidak diperlukan, dengan cara berpikir yang keliru, “mengapa saya harus memperkuat mereka. Mereka akan melakukan apa yang harus mereka lakukan!”

Berikut pedoman utama penggunaan penguatan untuk meningkatkan prilaku yang diinginkan di ruang kelas yang mungkin bisa Anda praktikkan.

  1. Tentukan prilaku apa saja yang anda inginkan dari siswa dan perkuat prilaku ini ketika terjadi. Misalnya, beri imbalan atau pujian untuk pekerjaan yang baik yang dilakukan siswa. Jangan berikan pujian atau imbalan untuk pekerjaan yang di bawah rata-rata (di bawah kemampuan siswa). Hati-hati memberikan pujian berlebihan juga menjadi malapetaka, siswa bisa jadi manja dan cepat puas. Ketika siswa memulai tugas baru, mereka perlu dikuatkan pada setiap tahap hingga akhir. Perkirakan hasil akhir yang diharapkan untuk diberikan umpan balik positif.
  2. Guru harus jujur. Sampaikan kepada siswa prilaku apa saja yang anda inginkan. Jika mereka memperlihatkan prilaku yang anda inginkan tersebut , perkuatlah prilaku tersebut, dan sampaikan kepada mereka alasannya. Sodorkan kepada siswa aturan yang menyebutkan kritera yang akan anda gunakan ketika menilai pekerjaan mereka dan sertakan bobot nilai untuk masing-masing kriteria. Siswa akan sanggup membedakan kekuatan dan kelemahan mereka sendiri dari umpan balik yang diterima dari anda.
  3. Perkuat perilaku yang tepat sesegera mungkin setelah hal itu terjadi. Ingat…! Penguatan  yang tertunda akan kurang efektif jika dibandingkan dengan penguatan langsung. Ketika anda memberi nilai pada tugas tertentu, berikan umpan balik sesegera mungkin. Penting bagi siswa untuk mengetahui bagaimana kinerjanya di kelas, sehingga jangan tunda nilai mereka.
  4. Gunakan Penguatan Praktis.  Segala sesuatu yang disukai anak dapat menjadi penguatan yang efektif, tetapi ada batas-batas praktis yang jelas tentang apa yang seharusnya digunakan di ruang kelas. Misalnya, jika pujian sudah ampuh, jangan gunakan sertifikat. Jika sertifikat sudah ampuh, jangan gunakan makanan. Namun jangan ragu memberikan penguatan kepada siswa untuk memotivasi. Beberapa kategori penguatan praktis seperti, penguatan diri (siswa diajari untuk memuji diri sendiri dan menghargai hasil karya sendiri), pujian, perhatian, nilai dan penghargaan, hak istimewa (misalnya, lebih awal istirahat setelah menyelesaikan tugas dengan baik), dan lain-lain .

Sebagai seorang guru matematika di SD, saya paling sering memodifikasi pemberian penguatan dan saya kembangkan lewat metode permainan. Beberapa metode permainan yang cukup jitu untuk melenjitkan motivasi anak dalam belajar matematika adalah metode permainan 5 in 1 “MATH PASTI MAJU” yaitu lima permainan pembelajaran jitu untuk matematika di Sekolah dasar yaitu MATH Marathon Game, PAssword Game, Sniper Game, TIcket Game dan MAthematics Jungle Game. Metode permainan pembelajaran ini sudah melalui tahapan penelitian dan dituangkan dalam tulisan Best Practice. Untuk lebih jelasnya anda bisa baca pada link berikut 

Prinsip Konsekuensi seperti yang dijelaskan di atas meliputi dua hal yaitu Penguatan dan Hukuman. Namun cobalah berbagai strategi penguatan sebelum memikirkan memberikan hukuman, karena karena hukuman merupakan rangsangan yang umumnya tidak disukai siswa. Penjelasan praktis bagaimana menggunakan hukuman di ruang kelas akan dibahas pada sesi tulisan selanjutnya…

Semoga bermanfaat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: