Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Kisruh Implementasi Kurikulum 2013 di SD

Catatan Refleksi Implementasi K-13

by Made Nuryadi

KIsruh Kurikulum 2013Banyaknya perbedaan pendapat tentang cara menilai pada kurikulum 2013 membuat kebingungan para guru di lapangan. Guru merasa bahwa tuntutan penilaian pada kurikulum 2013 menyusahkan guru. Dari pengamatan penulis, guru bahkan merasa “give up” alias menyerah dengan tuntutan penilaian kurikulum 2013. Bagimana tidak, setiap satu pembelajaran (1 hari untuk SD) berdasarkan petunjuk pedoman penilaian dari pemerintah dan pedoman pada buku guru, disarankan melakukan penilaian aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan secara simultan. Perubahan paradigma menilai ini mensyaratkan guru untuk melakukan kontrol secara penuh terhadap aktivitas pembelajaran.

Pengalaman penulis melakukan penilaian otentik, dalam satu siklus pembelajaran penilaian dilakukan minimal 3 kali bergantung jumlah aktivitasnya, ini artinya setiap aktivitas pembelajaran guru harus menuliskan hasil penilaian dalam Lembar record penilaian. Kesiapan guru dan pengetahuan guru tentang bagaimana menilai secara otentik di tantang dalam kurikulum 2013. Banyak guru yang belum sepenuhnya siap dengan perubahan cara dan metode penilaian yang diisyaratkan oleh kurikulum, sehingga masih ada kecendrungan guru menilai hanya pada ranah kognitif saja. Padahal, tuntutan kurikulum 2013 mensyaratkan penilaian aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan dilakukan secara holistik, dan  komprehensif.

Perdebatan tentang bagaimana melakukan pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan melakukan penilaian otentik nampaknya masih akan terus berlanjut sampai ditemukannya format yang sesuai. Sampai saat ini masih banyak perdebatan berkisar tentang bagaimana “benang merah” antara pembelajaran tematik terpadu dengan sistem penilaian berbasis kompetensi.  Buku pedoman penilaian dari pemerintah pun masih cendrung membingungkan para guru di lapangan. Dari segi pedoman saja muncul dua versi yang masing-masing mempersepsikan berbeda.

Sebagai contoh, pada defenisi tentang ulangan harian, buku versi-1 menyatakan bahwa ”ulangan harian merupakan proses kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi secara periodik untuk menilai kompetensi peserta didik (kata periodik tidak ada penjelasan rinci). Sedangkan pada buku pedoman versi-2 menyatakan bahwa “ulangan harian merupakan kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk menilai kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu sub-tema. Ulangan harian terintegrasi dengan proses pembelajaran lebih untuk mengukur aspek pengetahuan, dalam bentuk tes tulis, tes lisan, dan penugasan”.

Contoh lain pada penulisan buku rapor. Pada buku pedoman penilaian versi-1 memunculkan kompetensi yang di nilai dan keputusan tentang kenaikan kelas masih ada, sedangkan pada  buku pedoman  versi-2 tidak memunculkan kompetensi yang di nilai (hanya deskripsi saja), juga keputusan kenaikan tidak dimunculkan. Masih banyak lagi persepsi yang berbeda yang perlu dicermati dan dikritisi.  Bagi para pembaca yang mau mengkaji lebih lanjut dapat meng-unduh kedua versi tersebut dengan link di bawah ini.

Beberapa pertanyaan kritis yang masih sering di dengar penulis di lapangan di tempat  penulis mengajar sebagai berikut:

  1. Apakah semua materi dan aktivitas yang ada di buku siswa harus diajarkan, apakah waktunya cukup?.
  2. Bagaimana cara menilai setiap KD dengan aktivitas pembelajaran yang ada, di mana di dalam aktivitas pembelajaran muatannya terintegrasi yang sulit dibedakan antara pembelajaran Bahasa Indonesia, IPA, IPS dan PKn?.
  3. Muatan KD jumlahnya banyak, bagaimana melakukan penilaian agar setiap aktivitas yang dilakukan dapat mengukur ketiga aspek (sikap, pengetahuan dan keterampilan)?
  4. Bagaimana cara memproses hasil penilaian agar nyambung dengan buku rapor yang hanya menampilkan deskripsi singkat hasil penilaian yang mengacu pada Kompetensi Inti, sementara jumlah KD yang begitu padat. Pertanyaan serupa juga sering di dengar, apakah buku rapor menjadi bermakna bagi siswa kalau hanya dideskripsikan dengan satu sampai 3 kalimat positif saja, sementara jumlah kompetesi yang diajarkan cukup padat?

Tentunya, semua pertanyaan kritis yang muncul dari kalangan guru sebagai praktisi perlu mendapat pencerahan dan penegasan beserta contoh kongret dari pemerintah, ahli kurikulum atau mungkin bagi para pembaca yang sudah cukup memahami.  Sebagai guru yang baru dua bulan mengimplemntasikan kurikulum 2013, walaupun sudah beberapa kali mengikuti pelatihan kurikulum 2013 juga masih mencari bentuk yang pas sesuai kondisi di lapangan. Namun dari hasil kajian dan pengalaman mengimplementasikan kurikulum 2013, saya memiliki pendapat yang mungkin bisa sebagai ajang berbagi pengalaman, yaitu:

  1. Guru hendaknya memahami betul filosofi perubahan dalam kurikulum 2013, khususnya berkaitan dengan membelajarkan dan melakukan penilaian. Pada kurikulum KTSP yang lalu, dominasi aspek pengetahuan masih sangat terasa, terlihat dari susunan penulisan buku siswa yang memuat materi, contoh soal dan latihan yang banyak. Sementara sekarang ini, buku siswa memuat banyak fakta dan masalah kontekstual, konsep, prinsip-prinsip, beserta alur bagaimana menemukan konsep secara detail. Keberadaan buku siswa dengan pendekatan saintifik dapat merangsang siswa untuk berpikir tingkat tinggi melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, mengkomunikasikan dan berbuat sesuatu. Filosofi perubahan ini menuntut para guru untuk mengubah paradigma lama yaitu dari mengajar ke membelajarkan. Perubahan paradigma ini berdampak kepada pemenuhan kompetensi guru. Guru tentunya akan banyak mengeluh ketika muatan kompetensi yang dimiliki belum memenuhi target dan tuntutan kurikulum, dan bahkan akan kembali ke pola lama. Dengan kata lain buku pedoman yang digunakan adalah kurikulum 2013, namun yang terjadi dilapangan adalah kembali ke pendekatan kurikulum KTSP (kurikulum 2013 hanya cover saja). Beberapa bukti dari pernyataan ini yang masih terasa dilapangan berdasarkan pengamatan penulis yaitu: (1) Masih banyak guru hanya sekedar ingin siswanya menyelesaikan target menjawab soal yang ada di buku (cendrung kognitif ), namun lupa memunculkan aspek sikap dan keterampilan. (2) Ada kecendrungan guru hanya ingin segera menyelesaikan materi tapi lupa melakukan refleksi tentang kebermaknaan tema secara utuh. (3) Mengejar target tes tertulis (ulangan), karena tes tertulis masih dianggap penilaian yang paling updol dan wajib. (4) Kurang melaksanakan penilaian otentik di kelas, bahkan penilaian otentik dianggap menyusahkan, membutuhkan banyak waktu, dan menyusahkan guru. Fakta-fakta di atas menunjukkan masih sulitnya mengubah paradigma guru, terlebih lagi penguatan-penguatan tentang bagaimana mengimplementasikan kurikulum 2013 masih sangat kurang.
  1. Kesulitan guru dalam melakukan penilaian otentik yang merupakan dampak dari pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik merupakan suatu kewajaran, karena guru masih dalam proses belajar. Mengubah kebiasaan bukan hal yang mudah, butuh kerja keras dan harus berani mencoba. Penilaian otentik yang mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah menuntut guru menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap). Tuntutan dari penilaian ini memang sering menyulitkan guru dalam implementasi. Hal ini disebabkan karena penilaian otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh peserta didik, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik. Kepenuhan kompetensi tentang cara menilai menjadi masalah utama bagi guru saat ini, karena antara aktivitas pembelajaran dan penilaian merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bagaimana mungkin guru dapat melakukan penilaian otentik, jika aktivitas pembelajaran yang dirancang masih berpusat pada guru. Dengan demikian, guru hendaknya dapat merancang sebuah pembelajaran yang berpusat pada siswa, dengan startegi dan metode yang bervariasi, sehingga dapat memunculkan aktivitas 5M (Mengamati, Menanya, Menalar, Mencoba dan Mengkomunikasikan).Pengalaman penulis, dalam merancang pembelajaran dengan pendekatan saintifik dengan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), Pembelajaran Penemuan, dan Pembelajaran Berbasis Proyek memang membutuhkan banyak waktu. Guru harus menyiapkan segala media yang digunakan untuk mengakomodir kebutuhan aktivitas pembelajaran yang dirancang. Semangat dan kerja keras guru menjadi syarat utama untuk membelajarkan siswa sesuai tuntutan kurikulum 2013.
  1. Pendekatan tematik terpadu pada kurikulum di SD menuntut guru harus membuat soal ulangan harian yang berbasis tema. Faktanya, masih banyak soal ulangan yang di buat guru berbasis mata pelajaran yaitu soal ulangan yang masih nampak jelas muatan mata pelajarannya. Padahal menurut pandangan penulis, soal ulangan juga harus menjaga keutuhan tema yang diujikan, masalahnya harus kontekstual, dan batas-batas mata pelajaran sudah tidak nampak alias “konsep jus” bukan “konsep rujak”. Kompetensi guru dalam membuat alat evaluasi seringkali menjadi salah satu masalah yang ada di dunia pendidikan. Guru cendrung mengkoleksi soal (mengumpulkan soal-soal yang ada di buku untuk diujikan), bukan merumuskan soal baru yang kontekstual sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswanya. Untuk berbagi pengalaman, penulis telah mencoba membuat soal ulangan sesuai kebutuhan kurikulum 2013 yang mungkin dapat memberi inspirasi para guru di SD. Contoh soal dibawah ini tidaklah sempurna karena keterbatasan penulis, namun penulis menyadari berbagi hal kecil untuk kemajuan dunia pendidikan itu sangatlah bijak. Silahkan unduh di link berikut. (Contoh Ulangan Harian 3 tema 1).
  1. Format pengolahan penilaian sesuai kebutuhan kurikulum 2013, memang sedikit lebih rumit dari kebutuhan kurikulum sebelumnya. Salah satu kesulitan yang juga penulis alami adalah membuat format penilaian yang mampu menilai Kompetensi Dasar (KD) secara holistik yaitu bagaimana membuat penilaian yang berbasis kompetensi yang mampu menyimpulkan ketercapaian siswa secara utuh terhadap KD yang diajarkan. Kesulitan ini disebabkan karena KD yang diajarkan tersebar sesuai konteks tema, yaitu KD muncul di beberapa tema yang berbeda, sehingga untuk melihat ketuntasan sebuah KD perlu menunggu sampai muatan KD itu selesai diajarkan (bisa jadi menunggu setelah akhir beberapa tema yang memuat KD tersebut). Dari pedoman buku penilaian yang dikeluarkan pemerintah juga sedikit membingungkan penulis, karena penilaian masing-masing aspek (sikap, pengetahuan dan keterampilan) menggunakan instrumen yang berbeda, dan nampaknya cendrung dilakukan terpisah. Padahal menurut penulis aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan adalah tiga hal yang tidak terpisahkan, ini berarti bahwa dalam satu aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh siswa pasti memuat ketiga hal ini. Contohnya, ketika penulis melakukan pembelajaran tentang “ bermain peran menjadi reporte cilik” (buku siswa kelas 5 tema 2 sub tema 1 hal 5-6). Penulis membuat video siswa, dengan tema “pentingnya air bagi kehidupan manusia, dan cara menghematan air”. Dalam rekaman video ini, guru dapat melihat 3 aspek secara langsung yaitu aspek sikap (kepedulian, tanggung jawab, rasa syukur dll), aspek pengetahuan (manfaat air bagi kehidupan, cara menghemat air dll), aspek keterampilan (keterampilan berkomunikasi, gerak tubuh, intonasi, kejelasan lafal, dll). Inilah yang penulisan pahami sebagai penilaian holistik, sesuai konsep penilaian otentik. Tentu berbeda pendapat adalah hal yang wajar selama argumennya itu rasional, untuk itu pendapat penulis ini hanya merupakan hasil pemikiran dini yang butuh kajian lebih lanjut.

Menyikapi berbagai kisruh yang ada seputar implementasi kurikulum 2013, penulis menyarankan beberapa hal yang mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk dilakukan yaitu:

  1. Satuan pendidikan (sekolah) haruslah membuka diri untuk menerima masukan, dan saran agar menemukan metode implementasi yang tepat sehingga roh dari kurikulum 2013 tersampaikan kepada peserta didik.
  2. Sekolah hendaknya melakukan pengkajian menyeluruh (bukan parsial) dengan membangun diskusi professional melalui wadah KKG/MGMP, karena forum diskusi KKG/MGMP bisa digunakan sebagai forum yang dapat memecahkan masalah-masalah yang ditemukan.
  3. Komunikasi dan supervisi akademis oleh pimpinan sekolah menjadi hal urgent untuk dilakukan. Supervisi dimaksudkan untuk menemukan fakta-fakta implementasi, sehingga bisa dijadikan bahan kajian dan diskusi untuk membuat kebijakan. Bagaimana mungkin seorang pimpinan sekolah dapat memetakan masalah implementasi kalau hanya duduk di meja kantor, tanpa turun langsung kelapangan. Nampaknya metode “BLUSUKAN ala JOKOWI” juga harus dilakukan.
  4. Sekolah harus segera melakukan pengkajian dan evaluasi terhadap masalah-masalah yang ditemukan. Jangan biarkan masalah yang ada, menjadi tembok penghalang “evolusi mental” yang dicanangkan kurikulum 2013.
  5. Tetapkan target sesuai arah perubahan kurikulum, janganlah kurikulum yang harus menyesuaikan diri dengan kondisi sekolah. Sekolah harus mengubah paradigmanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum, bila tidak maka kurikulum hanya sebatas dokumen belaka.
  6. Sekolah hendaknya jangan kompromi terhadap pemenuhan kualitas. Kualitas pendidikan memang akan terasa dalam kurun waktu yang panjang (10-20 tahun kedepan), namun harus dipersiapkan dengan matang bukan hanya sekedar asal-asalan.

Mari perbaiki bangsa ini melalui “Ruang Kelas” (kata Anies Baswedan).

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s