Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Belajar Dari Si Lugu, dan Si Pencari Perhatian

Catatan Refleksi Guru
Made Nuryadi, 26 Sept. 2014
 

“Siswa mengenang dengan kekaguman pada seorang guru yang sangat pintar, namun sangat menghargai dan berterima kasih pada guru yang menyentuh hati nurani. Kurikulum sekolah pada dasarnya adalah bahan mentah, namun kehangatan adalah elemen penting untuk menumbuhkan tanaman dan untuk berkembangnya jiwa seorang anak”

-Carl Jung-

Sudah lama aku ingin menuliskan cerita ini, namun karena terbatasnya waktu aku memendamnya sampai akhirnya aku tuliskan juga. Setelah mengamati prilaku murid ku kelas 5B SD YPS Singkole selama kurang lebih 2 bulan, aku seringkali termenung dan bertanya dalam hati, “Bagaimana cara menjadikan mereka anak yang berani, semangat dan percaya diri?”. Permenungan ini memotivasiku untuk selalu memberi yang terbaik bagi muridku. Ku coba berbagai cara mulai dari hal-hal yang sederhana sampai yang yang menyita banyak waktu. Menyapa mereka setiap bertemu, memutarkan video inspiratif di pagi hari, menanamkan sugesti positif setiap hari, memberikan “ice breaking” di sesi pembelajaran, sampai menampilkan karya-karya mereka di web blog ku yang sedikit menyita waktu.Kelas ku sungguh unik. Kemampuan dan karakter siswa sangatlah beragam, ada yang pintar, pemalu, lugu, pendiam, bahkan hiperaktif. Kreatifitas guru adalah syarat mutlak untuk menjadikan mereka berbeda dari sebelumnya. Di hari yang panasnya terik, tepatnya pada hari selasa 23 September 2013 aku sangat bahagia dan puas, bagaimana tidak? Setelah kurang lebih dua bulan bersama mereka aku baru menemukan perubahan yang luar biasa pada kedua murid yang selalu menguras tenagaku. Mereka itu adalah anak hebat, ku sebut saja Si anak lugu “Satyo”, dan Si anak Pencari Perhatian “Zaky”  mereka sering mencuri perhatianku.

Gilbrand Arysatya (Satyo) itulah nama siswa ku yang paling lugu dan malas, seringkali membuat aku harus mengelus dada karena kemalasannya. Bulan pertama pembelajaran hampir seluruh aktivitas dan tugas-tugas di kelas tidak pernah dituntaskannya. PR jarang dikerjakannya, bila di tanya alasannya ia menjawab dengan lugu, namun menyayat hati. Sering aku termenung dan memikirkan bagaimana cara mengubah prilaku buruknya. Perlahan-lahan ku kenali siapa dirinya dengan selalu memberikan perhatian dan kasih sayang. Akhirnya, aku menyadari dan menemukan bahwa Satyo bukanlah anak malas, bukanlah anak bodoh, namun hanya sedikit minder. Entah kenapa Satyo menjadi anak minder. Setelah aku mencari tahu dari teman-temannya  dan menelusir catatan perkembangannya ternyata Satyo menjadi minder karena sering di cap nakal, dan malas oleh teman-temannya bahkan juga oleh guru. Ku coba cari cara untuk membangkitkan semangatnya dengan menumbuhkan kembali eksistensinya. Ku temukan cara yang sederhana, mudah dan murah yaitu memberikan perhatian penuh, dan mengapresiasi setiap prilaku positifnya yang mampu membuatku akhirnya tersenyum bahagia. Satyo yang dulunya di cap malas menemukan kembali jati dirinya. Hematku, sudah banyak perubahan yang dia lakukan, itu juga diakui oleh teman-temannya. Di minggu ini, sebagai penghargaanku kepada dirinya ku publikasikan video presentasenya di You Tube dan ku posting beritanya di weblog ku (klik di sini). Sungguh Satyo memberi pembelajaran yang berarti bagi ku sebagai seorang guru dan rasanya aku ingin berteriak,…”Satyo aku bisa menaklukanmu”

Lanjut ceritaku…Ahmad Muzaky Alfathan (Zaky) adalah siswa dikelasku yang seringkali membuatku garuk-garuk kepala. Setiap hari ada saja prilaku aneh yang dia buat untuk mencuri perhatianku. Prilakunya yang gak biasa seringkali membuat denyut nadiku berdetak kencang alias geram. Ku sadari semua ini adalah tugas mulia yang mengajariku kesabaran dan kebijaksanaan. Ku coba menelusuri siapa sebenarnya dia (Zaky) melalui teman-temanya dan juga catatan perkembangan dari kelas-kelas sebelumnya. Ternyata…oh…ternyata anak ini memang luar biasa, catatan pelanggaran dan prilaku negatifnya cukup menantangku. Ku coba dekati, rangkul dan berikan perhatian penuh, akhirnya kutemukan siapa sesungguhnya si zaky. Si Pencari Perhatian (Zaky) sesungguhnya anak cerdas, logikanya bagus bukan anak nakal dan usil. Untuk mengurangi prilaku anehnya, ku temukan cara yang cukup efektif  untuk meningkatkan jati dirinya yaitu menjadikan dia tutor sebaya dalam pembelajaran matematika, dan memberikan kesempatan lebih awal untuk menjawab pertanyaan yang menantang. Sikap anehnya yang selalu mencari perhatian berubah menjadi positif. Dia lebih bersemangat dan kecerdasannya yang dulu tenggelam karena prilaku anehnya semakin hari semakin nampak. Semoga anak Indonesia seperti Zaky tidak menjadi korban karena kurangnya kepedulian dan perhatian guru.

Menjadi guru memang bukanlah profesi yang mudah, butuh keiklasan, harus punya kemauan untuk bekerja keras, dan keberanian mengubah paradigma. Begitu banyak orang menjadi guru, namun hatinya bukan guru sehingga anak didiklah yang menjadi korban. Bekerja banyak mengeluh dan hitung-hitungan, termasuk memberi apresiasi atau pujian pun hitung-hitungan kendati itu gratisan (hanya sekedar ucapan dan ancungan jempol). Mengajarlah dengan hati bukan hanya dengan kepala, itulah yang paling dibutuhkan anak didik di Negeri ini. Guru terlalu sering meremehkan kekuatan sentuhan, senyuman, sapaan, mendengarkan, pujian, dan hal-hal kecil lainnya, padahal semua itu memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan anak didik. Kurikulum pada dasarnya adalah bahan mentah, namun kehangatan dan cintalah elemen penting untuk menumbuhkembangkan jiwa seorang anak.
Semoga cerita pendek yang alurnya kurang jelas, kurang berbobot, dan mungkin juga bahasanya agak “katrok” ini, menjadi masukan bagi para pembaca khususnya guru agar mampu mengajar dengan hati.

Bagaimana menurut anda???

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: