Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

KONTROVERSI MUATAN MATEMATIKA PADA KURIKULUM 2013

Dari Matematika Mekanistik ke Matematika Realistik.

Matematika RealistikHadirnya buku siswa yang berbasis tematik terpadu pada Kurikulum 2013 (K-13) di SD memunculkan banyak kontroversi di kalangan guru dan orang tua. Banyak orang merasa bahwa buku siswa tidak mencakup materi yang lengkap seperti buku-buku kurikulum sebelumnya, sehingga ada anggapan bahwa orang tua mengalami kesulitan dalam membantu anak belajar di rumah. Pandangan ini mungkin di anggap benar jika yang bersangkutan masih menggunakan paradigma lamanya dalam menilai buku siswa dan muatan K-13 . Fakta menunjukkan bahwa buku siswa SD menggunakan pendekatan tematik terpadu berbasis aktivitas (kegiatan), bukan berbasis materi seperti buku siswa kurikulum sebelumnya. Adanya pendekatan penulisan buku yang berbasis aktivitas menunjukkan bahwa buku siswa sebagai salah satu pedoman untuk melakukan aktivitas pembelajaran oleh guru di kelas. Buku siswa bukan merupakan satu-satu sumber belajar, dan bahkan buku siswa tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya dukungan sumber lain. Seorang guru tidak akan mampu menciptakan pembelajaran yang PAIKEMATIK (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Menyenangkan dan Berbasis TIK) kalau hanya menghandalkan buku siswa.

Dari pengalaman saya dilapangan, buku siswa hanya menjadi salah satu stimulus untuk mendorong siswa melakukan eksplorasi melalui kegiatan mandiri, diskusi, kolaborasi dan studi pustaka. Banyaknya isu negatif tentang buku siswa di media massa justru mengundang tanya dalam hati saya ”apakah orang yang berkomentar negatif tentang buku siswa sudah mengerti arah perubahan dan filosofi kurikulum 2013”. Eh…Jangan-jangan hanya melihat sepintas atau hanya dengan membaca bagian pendahuluan lalu berani menyimpulkan dan berkomentar negatif (hehehe…ini dugaan saya).  Kurikulum 2013 baru anda akan dapat “sense-nya” jika anda terjun langsung dan menikmati prosesnya bersama siswa di lapangan. Apakah kurikulum yang harus dipersalahkan? Tentu saya harus mengatakan “tidak” (kurikulum tidak salah). Kajian saya kurikulum 2013 secara konsep bagus dan memenuhi tuntutan pendidikan masa kini. Lalu, siapa yang salah? Menurut saya, tidak ada yang salah hanya saja banyak orang masih terkungkung dengan paradigma lama yaitu masih menganut paradigma “mengajarkan” bukan “membelajarkan”,  inilah hakekat perubahan kurikulum 2013 secara teknis di lapangan.

Di samping perdebatan tentang buku siswa secara umum, banyak juga perdebatan seputar muatan matematika pada kurikulum 2013. Banyak orang beranggapan bahwa muatan matematika pada buku siswa sangat sulit dan membuat anak stress dalam belajar. Pandangan ini sangat menggelitik hati saya sebagai guru yang berlatar belakang pendidikan matematika. Untuk itu izinkan saya berbagi pandangan yang mungkin berbeda dengan anda, bukan saya hebat dalam matematika dan menguasai semuanya, namun hanya sekedar untuk menyampaikan pendapat yang mungkin dapat meluruskan pendapat anda.

Dewasa ini memang banyak perdebatan tentang bagaimanakah matematika itu harus diajarkan, apakah menggunakan pendekatan kognitif (mengedepan kemampuan berpikir) atau menggunakan pendekatan memorisasi (hafalan) dan Latihan. Pendukung pendekatan kognitif menentang pengajaran matematika dengan cara hafalan dan Latihan, sebaliknya mereka menekankan pemecahan masalah matematika secara kontruktivis. Yang lain mengasumsikan bahwa kecepatan berhitung adalah faktor dasar untuk mencapai prestasi matematika yang efektif dan mereka berpendapat bahwa keterampilan tersebut hanya dapat diperoleh melalui Latihan yang ekstensif. Pendekatan memorisasi, latihan dan berbasis “trik” inilah yang sering banyak digunakan oleh lembaga bimbingan belajar di Indonesia, bahkan inilah cara belajar matematika yang menurut anak paling menyenangkan. Anak merasa tidak percaya diri jika tidak mengikuti bimbingan belajar ketika hendak menghadapi Ujian Nasional (UN) dan tes  seleksi di Perguruan Tinggi (PT). Namun apa yang terjadi, cukup banyak anak menyerah ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang sedikit kompleks yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, banyak di antara mereka berujung pada pindah jurusan dan Drop Out (DO).

Menurut Tucker, dkk (Santrock, 441:2007) apapun pendekatan yang anda anut, bahwa pendidikan matematika sedang mengalami perubahan yang dramatis. Di era teknologi dan komputerisasi yang canggih seperti sekarang ini, matematika tidak lagi digunakan sebagai alat hitung menghitung, melainkan matematika digunakan untuk melatih kemampuan berpikir dan bernalar sehingga mampu memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata. Muatan matematika pada buku siswa kurikulum di SD  mengalami perubahan mendasar yang berfokus pada mengganti pembelajaran matematika yang bersifat mekanistik menjadi realistik (kontekstual). Berikut sedikit penjelasan singkat tentang perbedaan kedua pendekatan itu dan relevansinya dengan buku siswa pada kurikulum 2013.

Pendekatan Realistik

Pendekatan Matematika Realistik (PMR) banyak di warnai oleh pandangan Freudenthal tentang matematika. Dua pandangan penting menurut Freudenthal (Darhim, 2:2009) yaitu matematika dihubungkan realitas dan matematika sebagai aktivitas manusia. Berkaitan dengan pandangan tersebut Gravemeijer  (1994) mengatakan  bahwa matematika  harus  diusahakan  dekat  dengan  siswa  dan  harus dikaitkan  dengan  kehidupan  sehari-hari.  Di  samping  itu  siswa  harus  diberi kesempatan  untuk  belajar melakukan  aktivitas  bekerja matematika  atau  aktivitas matematisasi  matematika melalui kegiatan problem solving (pemecahan masalah). Problem solving dalam matematika melibatkan metode dan cara penyelesaian yang tidak standar dan tidak diketahui terlebih dahulu. Untuk mencari penyelesaiannya siswa harus memanfaatkan pengetahuannya, dan melalui proses inilah mereka akan mengembangkan pemahaman matematika yang baru. Penyelesaian masalah bukan hanya menjadi tujuan akhir  dalam belajar matematika, melainkan sebagai bagian terbesar dari aktivitas ini. Dengan kesempatan–kesempatan seperti inilah siswa akan terdorong untuk berani merefleksikan pikirannya sehingga menemukan kebermaknaan dalam belajar matematika. Dari sudut pandang inilah perubahan yang fundamental dalam muatan matematika pada kurikulum 2013 di SD. (artikel lengkap tentang PMR anda dapat unduh di link berikut: JURNAL_RME)

 

Mengapa Bukan pendekatan Mekanistik?

Perubahan pola pendekatan yang dipilih dalam menyajikan matematika berdampak pada struktur buku siswa. Kurikulum sebelumnya, mata pelajaran matematika yang berdiri sendiri lebih banyak menggunakan pendekatan mekanistik dan strukturalistik, sehingga struktur penulisan buku siswa dimulai dari ringkasan materi yang memuat rumus-rumus, contoh soal, dan Latihan soal. Menurut  pendekatan mekanistik matematika  adalah  suatu  sistim  aturan.  Aturan  ini  diberikan  kepada siswa,  kemudian  mereka  memverifikasi,  dan  menerapkannya  ke  dalam  masalah serupa  seperti contoh  sebelumnya. Tak ada  fenomena  real world  sebagai  sumber, sedikit  sekali  perhatian  diberikan  kepada  aplikasi.  Perhatian  banyak  diberikan kepada memorisasi  (mengingat)  dan  otomatisasi  pada  “trik”  dan  tentunya  bukan suatu metodologi. Kualitas  seperti  halnya  struktur,  keterhubungan,  dan wawasan diabaikan. Menurut pandangan strukturalistik, bahwa matematika terstruktur secara baik. Menurut pandangan ini matematika semata-mata hanya aksioma, definisi, dan teorema, karenanya orientasi pembelajaran menurut pandangan  ini adalah  subject matter  dan matematika  disampaikan  secara  deduktif.

Apa Fakta Pada Buku Siswa Kurikulum 2013?

Pada buku siswa SD di Kurikulum 2013, perubahan dari matematika mekanistik dan strukturalistik menjadi realistik sangat jelas dan terasa ketika diujicoba di lapangan. Buku siswa yang menggunakan pendekatan tema seakan-akan mengesampingkan hirakir dan struktur yang ketat pada matematika. Perubahan ini tentu mengagetkan siswa, guru, dan orang tua yang dulunya mengenal bahwa matematika itu sangat ketat dengan hirarki dan diajarkan harus mengikuti struktur dan hirarkinya. Faktanya sekarang, matematika diajarkan sesuai konteks tema dan berbasis cerita kontekstual. Perubahan ini mengusung perubahan filosofi K-13 di SD, yaitu bahwa kebermaknaan sebuah tema, sikap dan keterampilan dalam pembelajaran lebih dikedepankan dibandingkan kognitif. Ini sangat berbeda dengan kurikulum sebelumnya, kognitif menjadi fokus utama sebuah pembelajaran.

Untuk lebih memperjelas saya coba mengulas lebih detail satu contoh isi buku siswa kurikulum 2013 dibawah ini.

Buku siswa tema-1 K-13

Sumber: Buku Siswa kelas 5 (tema 1 subtema 1, hal 30)

Dari contoh kasus di atas, menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam membelajarkan anak adalah pendekatan realistik (kontekstual). Masalah kontekstual menjadi sumber utama dalam membelajarkan matematika pada anak, masalah-masalah ini juga dimunculkan dengan alur cerita yang bermakna sesuai tema. Pendekatan tematik terpadu pada buku siswa ini lebih mengedepan kebermaknaan matematika ketimbang keterampilan hitung-menghitung matematika. Dari contoh di atas, guru di tuntut  mempunyai wawasan yang luas dan kejelian bagaimana mengintegrasikan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara utuh dalam pembelajaran. Kasus pada buku di atas menunjukkan bagaimana nilai-nilai sikap seperti membantu sesama, peduli orang lain dan senang berbagi harus dimunculkan dalam pembelajaran. Disamping itu pula, keterampilan matematika menjadi fokus bukan saja hasil akhir, dalam hal ini anak harus mampu menunjukkan secara nyata dengan pemodelan bagaimana memperoleh nilai “ 2/3 x 1/2 “, walaupun secara matematika mekanistik sangatlah mudah yaitu’’ hanya dengan mengali pembilang dengan pembilang dan kemudaian dibagi penyebut dikali penyebut” .

Mengubah paradigma guru, siswa dan orang tua dari pola mekanistik ke realistik bukanlah sesuatu yang mudah. Guru harus mampu menunjukkan kosistensinya untuk melakukan perubahan melalui pembiasaan-pembiasaan. Guru masih sering tergiring untuk mengajarkan matematika dengan pendekatan mekanistik, sehingga meninggalkan makna belajar itu sendiri. Guru terpancing untuk berlama-lama mengasah keterampilan matematika pada topik tersebut, sementara lupa memunculkan aspek sikap dan keterampilannya, yang ujung-ujungnya terpancing memberi tugas-tugas latihan dan PR yang banyak sebagai dampak pembelajaran di kelas. Sulitnya mengubah paradigma dan zona nyaman guru seringkali memunculkan persepsi negatif terhadap muatan kurikulum 2013. Banyak guru dan orang tua justru menyalahkan kurikulum dengan berbagai alasan dan kesimpulan dini yang tidak dikaji dengan matang. Padahal, sulitnya menerima perubahanlah yang menjadi penyebabnya.

Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa melakukan perubahan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, namun saya yakin anak sangatlah cepat menerima setiap perubahan itu, asalkan ada kosistensi dari guru sebagai agen perubahan. Pengalaman saya dilapangan menjadi guru di kelas 5 menunjukkan bahwa perubahan di anak cukup cepat, ini terlihat adanya perubahan yang signifikan ketika membelajarkan buku tema-1 dan  buku tema-2, baik dari segi kualitas hasil kerja, maupun waktu yang dibutuhkan. Di buku tema-2, anak sudah mulai menikmati pola kegiatan yang ada, dan mereka menunjukkan kepercayaan diri yang kuat dalam melakukan dan berbuat sesuatu sesuai apa yang mereka pikirkan. Setelah melakukan refleksi bersama anak didik diakhir tema-2, saya menyimpulkan bahwa anak didik saya justru lebih enjoy belajar dengan menggunakan kurikulum ini, begitu juga saya sebagai guru.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca. Jika ada perbedaan pendapat itu hal yang wajar, mari saling berbagi demi kemajuan pendidikan bangsa kita.

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s