Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Tips Buat Orang Tua Dalam Mendampingi Anak belajar dan Menyelesaikan Tugas PR (K-13)

10 Cara Efektif Untuk Orang Tua.

images (2)Tugas-tugas sekolah yang dilanjutkan di rumah yang sering disebut Pekerjaan Rumah (PR), seringkali dianggap sebagai beban oleh anak dan orang tua. PR sesungguhnya merupakan dampak akhir dari sebuah proses pembelajaran di kelas yang tidak tuntas. Seorang guru yang mampu menciptakan suasana pembembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan biasanya akan memberikan PR yang sangat minim kepada anak. Mengapa? Karena semua aktivitas yang sesuai dengan tujuan pembelajaran telah di capai atau tuntas, sehingga tugas-tugas yang berkaitan dengan ketidaktuntasan pembelajaran di kelas cendrung minim bahkan tidak ada. Bagaimana dengan tugas-tugas yang ada pada Kurikulum 2013 saat ini? Menurut pendapat saya, tugas-tugas yang ada pada kurikulum 2013 lebih mengarah ke study pustaka, kegiatan eksplorasi (proyek), dan kegiatan remedial/pengayaan.

Buku siswa pada kurikulum 2013 berbasis aktivitas bukan materi, yang artinya bahwa buku siswa menyediakan aktivitas yang konsruktif, bukan materi dalam bentuk jadi yang sifatnya informatif yang kecendrungan untuk di hafal anak didik. Aktivitas yang disediakan pada buku siswa menuntut anak harus mampu menemukan atau mengkontruksi sendiri pengetahuannya melalui kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan (kegiatan 5M). Perubahan pendekatan ini harus disadari sepenuhnya oleh siswa dan orang tua, karena perubahan ini lebih berorientasi pada proses bukan hasil, kebermaknaan kegiatan 5M untuk membangun cara berpikir yang benar tentang belajar, jauh lebih penting dibandingkan hasil akhir dari proses belajar itu sendiri.

Pro-kontra tentang dampak perubahan kurikulum bagi anak dan orang tua di media massa khususnya tentang beban belajar anak dan tugas-tugas di rumah sampai saat ini masih cukup hangat dibicarakan. Berbagai alasan disampaikan untuk mempertahankan pendapat masing-masing, namun ada hal penting yang harus dikritisi adalah apakah benar beban belajar anak bertambah? Apakah banyaknya PR merupakan dampak dari perubahan kurikulum 2013, sehingga kurikulum yang dijadikan “kambing hitam”? ataukah, mungkin akibat dari kurangnya kesadaran untuk berubah dan ketidaksiapan menerima perubahan sehingga kurikulum hanya diterapkan setengah-setengah atau tidak utuh. Tentu, para pembaca punya argumen atau pendapat sendiri. Silahkan berpendapat dan menilai.

Sebagai guru yang terjun langsung di lapangan, saya merasa ingin sedikit memberi penjelasan tentang kisruh yang ada saat ini. Tentu sekali lagi saya bukan pakar, saya hanya guru (seorang parktisi pendidikan) yang punya tugas dan tanggungjawab membelajarkan anak didik menggunakan kurikulum 2013. Menurut pengalaman saya, PR di kelas saya justru tidak banyak (sangat minim) jika dibandingkan waktu saya mengajar menggunakan kurikulum sebelumnya (KTSP). Hampir semua kegiatan pembelajaran saya tuntaskan di kelas, sehingga PR bisa saya minimalkan. Adapun tugas-tugas yang diberikan bukan berbasis PR, tetapi arahan ke anak untuk melakukan studi pustaka, dan kegiatan eksplorasi berkaitan dengan aktivitas yang sudah dilaksanakan di sekolah.
Sebagai contoh kegiatan pembelajaran materi tentang APEC (buku siswa kelas 5 tema 3, hal 39) seperti gambar berikut:

Gambar 1

Sumber: buku siswa kelas 5 tema 3, hal 39

Isi dari buku siswa di atas menunjukkan bahw,  buku siswa tidak memberikan informasi materi tentang APEC, tetapi memberikan aktivitas yang akan dilakukan siswa melalui kegiatan berdiskusi dengan beberapa pertanyaan pancingan (buku siswa berbasis aktivitas bukan berbasis materi). Salah satu tugas guru dan orang tua adalah membantu siswa menemukan sumber belajar yang berkaitan dengan materi APEC. Sebagai guru saya menyediakan berbagai sumber belajar tentang materi APEC untuk didiskusikan berkaitan dengan pertanyaan yang ada. Selanjutnya, siswa menggali sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan pengembangan sesuai informasi yang mereka temukan dalam sumber-sumber belajar yang saya sediakan. Siswa di setiap kelompok akan menyusun pertanyaan lain untuk bahan diskusi kelompok lain (kegiatan tukar-menukar pertanyaan antar kelompok). Di akhir kegiatan, guru dan siswa membuat sebuah kesimpulan dengan kegiatan “mengkomunikasikan hasil diskusi”, tentang APEC secara utuh. Demikianlah gambaran singkat tentang pembelajaran berbasis aktivitas yang ada pada kurikulum 2013.

Apa yang harus dilakukan oleh orang tua untuk membantu anak belajar di rumah? Ini mungkin menjadi hal yang lebih penting untuk saya bahas  setelah mengulas sedikit filosofi perubahan pendekatan pembelajaran pada kurikulum 2013. Berikut 10 Tips bagi orang tua dalam membantu anak belajar di rumah. Cermati tips berikut, terapkan, dan rasakan perubahan pada anak anda.

  • Luangkan waktu untuk anak anda. Luangkan waktu anda sebagai orang tua untuk berdiskusi atau mendengarkan curhatan anak anda tentang kejadian di sekolah. Topik yang anda bahas bisa berkaitan dengan kejadian yang menyenangkan, kejadian yang tidak menyenangkan, kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah, dan tugas-tugas dari sekolah. Dengan meluangkan waktu bersama anak secara tidak langsung akan berpengaruh kepada motivasi diri dan kepercayaan dirinya dalam melakukan aktivitas belajar yang telah dan harus mereka lakukan.
  • Bersikaplah penuh perhatian (atentif). Umumnya anak akan merasa jenuh terhadap tugas-tugas yang diberikan guru, oleh karena itu, sebagai orang tua anda harus mampu membangkitkan semangat anak anda ketika dalam kondisi jenuh dan capek. Jagalah perasaan anak anda sebelum mengerjakan tugas agar tetap semangat!. Jangan sekali-kali mendikte dan memaksa anak yang dapat menyulut emosi mereka yang berujung kepada demotivasi, bersikaplah penuh perhatian!.
  • Pahami tujuan dan jenis tugas anak anda. Kurikulum 2013 secara umum mengelompokkan kedalam 3 kategori tugas, yaitu tugas study pustaka, tugas pengembangan (proyek) dan tugas remedial/pengayaan. Berikut contoh kategori tugas yang ada di buku siswa kelas 5 Kurikulum 2013. Amati dan cermati setiap bentuk berikut.

Contoh Tugas Studi Pustaka: Tugas ini bertujuan untuk mengarahkan anak agar lebih mengenal Tari Saman secara lebih mendalam yang akan digunakan untuk mengerjakan aktivitas lanjutan yang ada di buku siswa

Gambar 2

Sumber: Buku Siswa kelas 5 Tema 3 hal 36

Contoh Tugas Proyek: Jenis tugas ini membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam penyelesaiannya, mengedepankan proses, dan hasil akhir berupa hasil karya (produk). Tugas ini lebih cendrung mengasah dan mengukur keterampilan murid.

gambar 3

Sumber: Buku Siswa kelas 5 tema 3 hal 35

Contoh Tugas Pengayaan: Tugas ini bertujuan meningkatkan kemampuan murid secara optimal melalui kerjasama orang tua.

Gambar 4

Sumber: Buku Siswa kelas 5 Tema 3 hal 11

  • Bila tugas anak anda adalah tugas studi pustaka, apa yang harus anda lakukan?. Orang tua hendaknya mengarahkan anak untuk menemukan tempat dimana sumber/pustaka tersebut bisa ditemukan. Misalnya, bila menggunakan internet, dampingi anak dalam melakukan searching atau browsing mengenai tugas tersebut. Awasi anak agar fokus terhadap pencarian tugasnya, karena internet dapat mengalihkan perhatian anak ke bentuk yang lain seperti game, facebook, musik, film dan lain-lain. Setelah sumber pustaka ditemukan, lakukan diskusi dengan kegiatan 5M yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba,   dan mengkomunikasikan. Ingat! Pendekatan 5M bukan hanya terjadi di ruang kelas, namun harus dibiasakan di rumah anda.
  • Bila tugas anak anda adalah tugas proyek, apa yang harus anda lakukan?. Dampingilah anak anda dalam menyelesaikan proyek tersebut. Orang tua sebisa mungkin membantu anak mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam meyelesaikan proyek tersebut untuk menjaga motivasi anak. Hindari memonopoli pengerjaan proyek tersebut, biarkan anak anda mengerjakannya sendiri apapun hasilnya, bantulah dia jika ada pekerjaan yang sulit atau cendrung membahayakan bagi dia, beri kepercayaan kepadanya untuk menyelesai proyek tersebut. Ingat! Biarkan anak melakukan sendiri sebagai proses belajar untuk mengasah keterampilannya (proses jauh lebih penting dari pada hasil akhir). Pengalaman saya sebagai guru, saya pernah diantarkan tugas proyek oleh siswa, hasil karyanya bagus, tanpa cacat dan membuat saya takjub (mau bilang wow…gitu). Namun setelah saya telusuri ternyata yang mengerjakannya adalah orang tuanya. Apa yang saya lakukan sebagai guru? Saya tetap memberi nilai bagus (nilai 10), yaitu nilai “9” untuk orang tuanya dan nilai “1” untuk anak itu. Jika anda sebagai orang tua melakukan hal yang sama seperti cerita di atas, dan seandainya saya sebagai guru anak anda, pasti saya juga berikan nilai seperti di atas dan saya akan tuliskan dengan angka ukuran besar di karya anak anda tersebut, supaya anda sadar yang harus dibelajarkan adalah anak anda, bukan diri anda.
  • Bila tugas tersebut adalah tugas remedial/pengayaan, apa yang harus anda lakukan?. Sebagai orang tua anda harus menggali terlebih dahulu apa maksud tugas yang diberikan dari anak anda, apakah tugas itu diberikan karena anak anda tidak tuntas dengan tugas yang sama di sekolah? Bila ya, berarti tugas itu adalah adalah tugas remedial (pengulangan), atau mungkin karena anak anda cerdas (kemampuan belajarnya baik) sehingga diberikan tugas lain yang melebihi dari standar? Bila ya, itu berarti tugas pengayaan (pengembangan). Setelah anda mengetahui jenis tugas tersebut, apa yang harus anda lakukan? Bila itu tugas remedial, lakukan pendampingan yang terstruktur ke anak anda terhadap kesulitan-kesulitan yang ditemukan dalam pengerjaan tugas tersebut, anda tidak diharapkan sebagai pelaku utama dalam mengerjakan tugas tersebut, anda diharapkan mampu memberikan scaffolding untuk menggali perlahan-lahan kemampuan anak dan kesulitan-kesulitannya termasuk materi prasyarat yang belum mereka kuasai, setelah itu komunikasikan kepada guru  mengenai kelemahannya yang seharusnya dibantu di kelas. Bila tugas anak anda berupa tugas pengayaan, berikan kepercayaan penuh kepada anak anda apapun hasilnya, karena anak-anak yang diberikan tugas pengayaan mempunyai kemampuan yang baik , lebih mandiri, dan lebih beratnggung jawab. Sebagai orang tua, anda  harus merasa bangga bila anak anda sering mendapat tugas pengayaan (pengembangan), itu berarti guru memenuhi kebutuhan belajar anak anda secara optimal. Lebih sabar menghadapi anak, nikmati prosesnya bersama anak. Ingat semua anak adalah unik, memiliki keterbatasan dan kelebihan. Sebagai orang tua anda harus sabar, sabar,  dan sabar mendampingi anak anda!.
  • Lakukan komunikasi dengan guru yang memberi tugas. Seringkali anak tidak memberikan imformasi yang lengkap mengenai tugasnya, orang tua harus menjalin komunikasi dengan guru. Menjalin komunikasi dengan guru merupakan salah satu bentuk perhatian anda kepada anak anda. Pengamatan saya sebagai guru, orang tua siswa yang sering berkomunikasi dengan guru mengenai tugas-tugas sekolah berdampak postif pada peningkatan kepercayaan diri anak dalam penyelesaian tugas-tugas di kelas.
  • Bimbing anak anda dalam menentukan target penyelesaian tugas. Biasanya anak mengulur-ulur waktu penyelesaian tugasnya, sebagai orang tua anda harus membimbing anak dalam menentukan target peyelesaian. Target yang dimaksud dapat berupa target waktu, dan target hasil akhir. Orang tua harus sadar bahwa umumnya anak masih lemah dalam hal mengatur waktu, sehingga membantu menetapkan target waktu kerja menjadi hal penting untuk dilakukan bersama anak agar menjadi lebih fokus. Target hasil kerja perlu juga anda diskusikan, tetapkan target maksimal dalam penyelesaian tugas agar hasil kerja tugas tidak terkesan asal jadi, dan tidak berbobot (kurang berkualitas).
  • Pertimbangkan Mastery (penguasaan). Beri imbalan (reward) pada kinerja anak anda, imbalan yang mengisyaratkan penghargaan atas penguasaan materi atau keterampilan, bukan imbalan hanya melakukan tugas walaupun hasil akhir asal jadi dan kurang berkualitas.
  • Tunjukkan sikap proaktif, bukan reaktif. Anak jarang membuat rencana penyelesaian tugas secara detail atau mengelola waktu mereka untuk belajar, sebagaian besar cendrung menyelesaikan tugas mereka mendekati waktu batas akhir penyelesaian tugas. Sebagai orang tua, dorong anak anda untuk lebih proaktif dan mengembangkan rencana penyelesaian tugas-tugas sekolah secara efektif.

Disadari atau tidak peran orang tua dalam kurikulum 2013 semakin penting, bahkan genting. Kurikulum menuntut kerjasama yang baik antara sekolah, guru dan orang tua dalam menyukseskan kehidupan anak, peran ini dinyatakan secara eksplisit di buku siswa, yaitu bagian “kerjasama dengan orang tua” yang terdapat di setiap akhir pembelajaran. Berikut contoh bentuk kerjasama dengan orang tua pada buku siswa.

gambar 5

Sumber: Buku Siswa kelas 5 Tema 3 hal 30

Adanya bentuk kerjasama yang tertuang secara eksplisit pada buku siswa diharapkan dapat membantu orang tua dalam mendampingi anak untuk melakukan tugas-tugas yang bermakna di rumah, melalui kegiatan 5M (Mengamati, Menanya, Menalar, Mencoba, dan Mengkomunikasikan). Saya ingatkan kembali bahwa kegiatan 5M bukan hanya kegiatan yang dilakukan guru di ruang kelas, namun juga harus dilakukan oleh orang tua siswa di rumah.

Suksesnya anak anda sangat bergantung dari diri anda sebagai orang tua. Mari bergandeng tangan membangun pendidikan dan karakter anak bangsa untuk menjadikan “INDONESIA HEBAT” melalui lingkungan rumah dan ruang kelas. Semoga sharing ini bermanfaat untuk anda para pembaca.

Salam

Made Nuryadi

2 Komentar

  1. Wah, tipsnya lengkap sekali!🙂
    Terima kasih sudah berbagi.

    Suka

    • Terima kasih. Semoga Tips ini bisa sedikit memberi pemahaman kepada orang tua agar berperan aktif membantu anak di rumah.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s