Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Tangis MU di Pangkuan KU

Refleksi, 8 November 2014

20141105_110813 20141105_110818Ini bukan cerita tentang asmara penulis, cerita dongeng, atau cerita fiksi tanpa makna. Cerita ini adalah fakta yang mungkin dapat memberikan inspirasi bagi anda sebagai  pendidik, orang tua atau apapun profesi anda untuk selalu mengasihi siapa saja dengan penuh cinta. Cerita ini memberikan gambaran bagaimana mendidik dengan kesabaran, menjadi guru yang mampu mendidik dengan hati bukan hanya dengan kepala.

Sebelumnya, saya mohon izin untuk bapak guru (pak Wilson) yang menjadi icon dalam cerita ini. Cerita ini saya tulis karena panggilan hati untuk menyampaikan pesan buat diri sendiri dan mungkin juga buat anda bagaimana menghargai profesi diri dan profesi orang lain.

Saat itu, hati saya tersentak kaget mendengar tangisan seorang anak yang menggelegar di samping kelas. Rasa penasaran itu membangunkan saya dari kursi guru, koreksian pun ditinggalkan untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Sungguh pemandangan yang indah, ternyata tangisan anak kecil itu ada dipangkuan gurunya. Perlahan saya dekati bapak guru tersebut, sambil bertanya, “ada apa Pak?”, Pak guru tersebut hanya tersenyum seakan tidak ada beban, dia memangku dan memeluk anak itu dengan kasih sayang. Tanpa sadar, kaki ini langsung melangkah ke ruang kelas, mengambil kamera, ingin mengabdikan moment tersebut.  Setelah menyalakan kamera, meminta izin untuk mengambil gambar , anak itu memalingkan wajahnya seakan–akan memberi kode “jangan….jangan…”. Akhirnya, beberapa jepretan pun saya dapatkan.

Setelah mendapatkan beberapa gambar, saya lalu melanjutkan bercerita dengan Pak guru tersebut untuk memastikan ada apa dengan anak itu. Ternyata anak itu adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang baru saja diambil dari kelasnya karena melakukan aksi di ruang kelas. Menurutnya kejadian seperti ini sudah sering terjadi, mungkin karena anak ini tidak mengkomsumsi obatnya di pagi hari, kata pak guru tersebut. Cerita terus berlanjut, sampai akhirnya anak itu tenang dipangkuan gurunya. Saya tersenyum, lalu pamit untuk kembali melanjutkan kerjaan mengoreksi hasil kerja siswa.

Dibalik peristiwa itu saya mendapat pesan yang dalam dari sang guru. Mencintai, menyayangi dan menerima apa adanya kondisi anak, itulah yang menjadi kunci keberhasilan dalam mendidik. Mendidik bukanlah profesi yang mudah, menjadi seorang pendidik haruslah mempunyai hati yang tulus, tetap mencintai dalam kondisi apapun dan memberi dengan iklas walaupun di caci maki. Banyak guru era sekarang menjadikan profesinya hanya untuk mencari sesuap nasi, banyak mengeluh sana-sini, lupa waktu untuk mengabdi, sedikit tak terpenuhi anak didik menjadi korban maki dan bully.

Mendidik adalah satu kata yang mudah sekali terucap dari bibir, namun  terkadang sulit untuk direalisasi. Dulunya, saya tidak pernah bercita-cita jadi guru, ingin jadi Dokter (namun tidak kesampaian karena status ekonomi). Setelah memulai bekerja sebagai guru muda di tahun 2004, stress pun melanda hampir 2 bulan karena tidak siap melihat dan menerima kondisi anak. Setelah beradaptasi dan menyelami perlahan-lahan makna “mendidik dan mengajar” semakin menyadarkan saya bahwa “profesi guru adalah profesi mulia”. Jujur, saya baru menikmati di tahun kedua menjadi guru, semakin yakin bahwa saya bisa mencintai profesi ini, dan inilah pilihan yang terbaik dari Tuhan. Mudah-mudahan saya bisa menjadi guru sejati, mendidik dengan hati dan berkarya untuk anak negeri bukan untuk dipuji.

 Menurut saya, profesi guru di negeri ini belum mendapat tempat di hati masyarakat, profesi guru dianggap tidak menjadikan “dapur bisa ngepul” (alias sedikit penghasilan) sehingga tidak banyak anak negeri ini bercita-cita ingin menjadi guru. Orang tua pun seringkali mengarahkan anaknya untuk mengambil jurusan bukan guru. Paradigma ini menjadikan pendidikannya negeri ini masih terpuruk, kerena pilihan menjadi guru bukan pilihan hati nurani. Menjadi guru hanya karena terpaksa, tidak ada pilihan lain.  Wahai guru di mana saja engkau berada, mari hargai dan maknai profesi ini karena profesimu adalah profesi mulia, jadilah guru sejati dan selalu mengispirasi.

Semoga cerita singkat ini dapat sedikit memberi inspirasi bagi Anda seorang guru, dan bagi para pembaca khususnya orang tua siswa agar menghargai profesi guru, mereka membangunkan investasi untuk anda lewat anak anda. Guru bukan pembantumu, yang selalu salah dan serba salah. Mohon maaf, jika ada kata-kata yang menginggung perasaan para pembaca. Cerita ini adalah cerita refleksi, murni keluar dari hati penulis, niatnya untuk berbagi. Semoga dapat menginspirasi.

2 Komentar

  1. Anonim

    Pak Made, terima kasih banyak untuk semua tulisannya karena refleksinya sangat dalam menyentuh hati nurani insani. Sangat inspiratif…

    Suka

  2. Terima Kasih atas apresiasinya. Saya baru belajar menulis untuk menuangkan ide apa saja, tanpa beban, mungkin tulisannya kurang berbobot, bila sedikit dapat memberi manfaat buat orang lain itulah mungkin niatnya. Menulis menjadi komitmen saya sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat terhadap profesi guru. Niat hati bukan menjadi guru hanya di ruang kelas saja, tapi juga di dunia maya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s