Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Pendidikan Karakter, Jangan Hanya Slogan.

Butuh keteladanan dan Pembiasaan.

pendidikan-karakterBerbicara pendidikan karakter memang sesuatu yang kompleks, dan tidak mudah untuk direalisasikan, butuh komitmen dan sinergi yang baik dari berbagai pihak. Dewasa ini banyak anak yang bertindak tidak sesuai dengan kondisi kematangan  psikologisnya. Sebagai salah satu penyebab terjadinya hal tersebut karena adanya pengaruh negatif dari kemajuan teknologi. Berkembang pesatnya teknologi seakan-akan mendidik anak semakin reaktif, dan menjadi  “anak karbitan”. Anak-anak cendrung tidak mau bersusah-susah, tidak  mau mengikuti dan menikmati proses, hanya menginkan hasil akhir yang serba instan. Prilaku ini nampak jelas dari cara anak dalam belajar di kelas,  banyak anak hanya ingin cepat selesai dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah (termasuk ujian) tanpa peduli dengan hasil akhirnya. Proses belajar yang instan, tidak mau repot, dan yang penting jadi,  menjadi pemandangan yang seringkali menghiasi hari-hari guru di sekolah.

Lebih seru lagi, ketika ada pemanggilan orang tua untuk bertemu guru atau wali kelas, yang di tanyakan adalah “bagaimana nilai anak saya”, bukan “anak saya sudah bisa apa atau sejauh mana perkembangannya”. Ini merupakan cermin orang tua yang juga ‘karbitan’, yang hanya peduli hasil akhir, tidak suka berbicara proses.  Lalu siapakah yang mau disalahkan dengan adanya fenomena ini? Bagaimana dengan pendidikan karakter di keluarga, sekolah dan masyarakat? Saling mempersalahkan bukanlah sesuatu yang bijak, melakukan refleksi kedalam diri sebagai orang tua, guru, sekolah, dan masyarakat jauh lebih penting daripada berdebat ‘kusir’. Menanamkan pendidikan karakter kepada anak menjadi tugas kita bersama bukan hanya menjadi tugas guru dan sekolah. Penanaman karakter sejak dini justru menjadi tugas dan tanggung jawab dari orang tua.

Apa itu Pendidikan Karakter? Pendidikan  mengandung  arti  membina,  melatih, memelihara  anak atau siapapun  menjadi  cerdas dan kreatif. Karakter,  yaitu  suatu  kualitas  positif  yang  dimiliki  seseorang  sehingga membuatnya  menarik  dan  atraktif.   Menurut Hendri dalam purwadi (2013, 55) karakter diartikan  sebagai  tabiat,  watak,  sifat  kejiwaan,  akhlak  atau  budi  pekerti  yang membedakan  seseorang  dengan  yang  lain.  Sedangkan, menurut  Suyanto  dalam  Purwadi  (2013:  66),  karakter  adalah  cara berpikir  dan  berperilaku  yang  menjadi  ciri  khas  tiap  individu  untuk  hidup  dan  bekerjasama,  baik  dalam  lingkup  keluarga,  masyarakat,  bangsa  dan  negara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter melibatkan aspek  pengetahuan  (cognitive),  perasaan  (feeling),  dan  tindakan (action). Tanpa  ketiga  aspek  ini,  maka  pendidikan  karakter  tidak  akan  efektif.  Dengan  pendidikan  karakter  yang  diterapkan  secara  sistematis  dan  bekelanjutan, seorang  anak  akan  menjadi  cerdas  emosinya.  Keserdasan  emosi  ini  adalah  bekal penting  dalam  mempersiapkan  anak  menyongsong  masa  depan,  karena  seseorang akan  lebih  mudah  dan  berhasil  menghadapi  segala  macam  tantangan  kehidupan, termasuk  tantangan  untuk  berhasil  secara akademis. (sumber: Purwadi, 2013. Menanamkan Pendidikan Karakter Pada Anak Sejak Dini)

Pendidikan karakter membutuhkan keteladanan.  Menurut Dr Subagyo  pakar pendidikan Universitas Negeri Semarang (republika.co.id, Semarang, 21 Mei 2014)  mengungkapkan bahwa pendidikan karakter harus ditanamkan kepada peserta didik melalui nilai-nilai keteladanan dari guru dan dosen. Menurutnya,  tenaga pengajar, baik guru maupun dosen tidak cukup berbicara dengan “berbusa-busa” di dalam kelas untuk mengajarkan pendidikan karakter. Namun, kata dia, pembelajaran dan penanaman nilai-nilai karakter yang paling tepat diberikan melalui keteladanan yang dicontohkan oleh guru dan dosen yang harus terus dibudayakan di sekolah dan kampus. “Ketika guru maupun dosen mampu memberikan keteladanan bagi anak-anak didiknya maka diharapkan akan muncul pribadi-pribadi yang berkarakter. Bagian dari upaya membangun integritas,” katanya. (sumber: http://www.republika.co.id)

Bagimana orang tua harus memberi keteladanan? Pendidikan karakter bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru dan sekolah. Peran Orang Tua dan Keteladananorang tua menjadi sangat sentral untuk menjadi pelopor pendidikan karakter, melalui pendidikan di keluarga. Hemat saya, komitmen orang tua dalam membangun karakter anak di rumah sangat membedakan sikap dan prilaku anak di sekolah, khususnya di SD. Orang tua seringkali ingin menanamkan pendidikan karakter sejak dini namun tidak dengan keteladanan, padahal anak usia dini butuh keteladanan (contoh prilaku konkret). Misalnya, orang tua yang ingin menanamkan bagaimana berprilaku bersih, orang tua menerapkan aturan-atauran bagaimana menjaga kebersihan, namun dia sendiri menunjukkan prilaku yang kurang bersih, terlambat mandi, membuang sampah sembarangan dll. Contoh lain yang saya gali informasinya dari anak didik sendiri, ternyata banyak orang tua membuat aturan pembatasan menonton ke anak-anak mereka, namun mereka sendiri  yang menonton tanpa batas. Mengomel, menegur, mengajak, menggunakan untaian kata-kata yang berlebihan bukanlah hal yang positif bagi anak untuk membentuk karakter di rumah. Keteladanan menjadi bagian yang paling penting. “Jangan menasehati  anak untuk tidak merokok, kalau anda seorang perokok”, kalimat ini kayaknya pas untuk menggambarkan keteladan lebih penting daripada hanya slogan dan nasehat.

Bagaimana guru harus memberi keteladanan? Di sekolah seringkali pendidikan karakter tidak dapat diimplementasikan secara optimal. Guru dan KeteladananAnda tahu kenapa? pendidikan karakter hanya menjadi slogan guru, untai kata yang manis tanpa makna. Banyak kata yang sering terucap, namun sedikit contoh yang bisa dilihat langsung oleh anak. Sebagai contoh, sekolah selalu mengajak siswa untuk disiplin, tapi gurunya tidak disiplin masuk kelas. Guru meminta siswa bekerja keras, namun guru menunjukkan sikap pemalas, mengajar dengan apa adanya, tanpa persiapan yang penting masuk kelas. Suatu pengalaman pribadi yang bisa saya share tentang pentingnya keteladanan. Saat ini, saya sementara membentuk karakter anak agar mampu menulis, apa yang saya lakukan? Saya tidak pernah mengawali dengan mengajari mereka teori menulis, saya hanya menunjukkan bahwa saya juga sedang belajar menulis dengan menunjukkan beberapa karya tulisan saya di weblog. Setelah itu saya mengarahkan mereka untuk membaca, ternyata beberapa anak sudah mulai menulis dan menunjukkan hasilnya kepada saya. Begitu juga, ketika saya mengajarkan bagimana menjadi anak agar bekerja keras, saya tidak hanya mengajak mereka dengan kata-kata agar bekerja keras, tetapi saya mencoba menunjukkan hasil dari kerja keras saya, seperti tulisan yang dibuat, dan lomba-lomba yang saya ikuti. Setiap tulisan dan karya yang saya buat, selalu saya tunjukkan ke siswa bagaimana mengerjakan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Contoh lain, anda ingin membentuk karakter “mental juara”, anda tidak akan berhasil membentuknya jika anda tidak bermental juara, atau mungkin pernah jadi juara. Begitulah pentingnya keteladanan dalam pendidikan karakter.

 Bagaimana sekolah membangun model keteladanan dan pembiasaan? Salah satu yang menyebabkan pendidikan karakter di sekolah

Ulangan Lisan pada K-13tidak optimal, adalah sekolah yang terlalu fokus dengan target-target akademik. Sekolah sering lupa bahwa pendidikan ini untuk jangka panjang, pengetahuan akademik yang diperoleh anak sekarang bisa saja usang setelah 5 -10 tahun yang akan datang. Kemampuan anak tentang bagaimana belajar dan membentuk karakter “continues learner” jauh lebih penting dibandingkan ilmu pengetahuan yang dikuasainya saat ini. Pemahaman tentang bagaimana seharusnya belajar menjadi hal penting yang harus ditanamkan ke anak, bukan sekedar hanya menyelesaikan materi yang ada pada kurikulum. Bagaimana melakukannya? Menurut pendapat saya, sekolah hendaknya memiliki fokus yang jelas mengenai karakter-karakter yang akan dibentuk, sehingga apapun jenis kegiatan yang dibuat harus berpedoman pada nilai-nilai/karakter yang akan di tuju. Sekolah hendaknya tidak membuat kegiatan-kegiatan yang hanya sekedar ‘fun’, tanpa fokus yang jelas terhadap nilai-nilai karakter yang akan dituju. Di samping melalui keteladan, pembiasaan menjadi hal kedua yang penting dalam pembentukan karakter. Sekolah harus memiliki konsistensi dalam membangun kebiasaan-kebiasaan hingga terbentuk menjadi karakter. Sekolah wajib memiliki program-program yang tetap sebagai dasar pembiasaan, bukan program yang ‘tambal sulam’  atau berdasarkan mood pimpinan sekolah. Pembentukan karakter membutuhkan waktu yang panjang, konsistensilah yang menentukan keberhasilannnya.

Proses pembelajaran Pendidikan Karakter pada kurikulum 2013 melalui proses belajar aktif dan   terintegrasi, tidak diajarkan melalui mata pelajaran yang berdiri sendiri. Dengan terintegrasinya pendidikan karakter ini berarti bahwa, semua proses dan aktivitas pendidikan sepanjang waktu di sekolah harus syarat dengan nilai-nilai karakter. Untuk itu, keteladan dan pembiasaan menjadi kunci sukses atau tidaknya pendidikan karakter di sekolah. Guru merupakan obyek pencarian makna pendidikan karakter di sekolah bagi para siswa. Apa yang dikatakan dan dilakukan guru adalah model pendidikan para siswa. Mereka akan meniru perilaku guru menjadi perilaku siswa. Oleh karena itu berhati-hatilah bagi para guru jika bertindak dan berkata. Terlebih bagi siswa Sekolah Dasar yang sedang dalam proses pembentukan sikap, apa yang dilakukan guru menjadi simbol pemaknaan sikap bagi para siswa.

Namun tidak cukup hanya sampai pada tataran di sekolah, tetapi keluarga juga bagian dari pengembangan pendidikan  bagi anak – anak. Betapa pun bagusnya  pendidikan yang dilaksanakan di sebuah  sekolah tetapi tidak ditunjang oleh orang tua dan masyarakat, maka kandaslah apa yang diharapkan oleh kita sebagai pelaksanan pendidikan. Keluarga dan masyarakat bagian dari obyek pendidikan ketika anak – anak berada di rumah sedangkan sebagian dari waktu mereka ada di sekolah merupakan tanggung jawab pihak sekolah.

Tulisan ini bisa sebagai kritik, saran, masukan, atau hanya sekedar pendapat pribadi penulis. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s