Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Mereka Tampil Beda.

Bedah ikan -1

Bedah ikan -6

Bedah ikan -5Bedah ikan -3Jijik, mual dan amis Bedah ikan -2begitulah komentar beberapa anak. Bagimana tidak, anak yang hanya tahu bahwa ikan itu enak bila dicampur bumbu, sekarang harus bermain dengan ikan mentah yang baunya agak amis dan tidak sedap. Banyak anak mulanya jijik tidak mau memegang ikan tersebut walaupun sudah memakai kaos tangan. Setelah ditanya, “Nak kok gak dipegang ikannya, bagaimana  caranya mengamati anotominya?”, jawab beberapa anak, “jijik Pak”. Lalu aku terus bertanya, “bukankah sering kamu makan?”, “ia Pak, tapi jijik”. Kok bisa, kataku? Di rumah gak pernah pegang pak (sahut beberapa anak).

Hmmm…aku memegang jidat, serta merasa keheranan. Mereka sering makan dalam bentuk masakan, namun ternyata sampai umur 11 tahun masih ada juga yang belum pernah mengamati anotomi ikan. Ini momen luar biasa, pikirku! aku harus mengajarkan ke mereka bagaimana melawan kebiasaan manja mereka di rumah. Keingintahuan mereka sangat besar, tapi seringkali dibendung oleh orang tua dengan alasan ‘sayang’. 

Beberapa di antara mereka terpaksa harus melakukan karena tuntutan pembelajaran. Sesuai teori pembelajaran, “anak harus diberi pengalaman dan pengetahuan yang baru” ini menjadi tugasku menjadi guru. Sementara melakukan pengamatan antomi luar dan dalam ikan. Aku mengamati sekelompok anak yang sedang bekerja mengukur panjang usus ikan. Kelompok itu bertanya, “Pak, panjang ususnya hanya 4 cm”. Aku hanya tersenyum menghampiri mereka dan mengajak mereka untuk mengurai usus ikan tersebut, ” Ayo coba kita urai, betulkah panjangnya hanya 4 cm?, kataku”. Ku ambil perut ikan itu, dan ku ukur dengan tinggiku, ” Woow, ternyata panjang ya Pak, sahut mereka”. Aku tersenyum puas, aku berhasil membawa mereka ke dunia sains.

Pembelajaran terus berlanjut sampai LKS terisi penuh. Beberapa anak nyaris tidak mau istirahat walaupun jam istirahat telah tiba. Inilah cerita singkatku!

Bedah ikan -4Refleksi: Seringkali Anda sebagai guru menganggap bahwa belajar hanya sebatas duduk di ruang kelas, mengisi lembar kerja atau menjawab pertanyaan. Anda lupa, bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Bawa pembelajaran Anda ke dunia mereka! Inilah yang mereka akan selalu kenang ketika tidak lagi belajar bersama anda. Bawalah dunia mereka ke dunia kita, jangan paksakan dunia anda ke dunia mereka. Guru sering terbelenggu oleh ketakutan karena tidak cukupnya waktu untuk mencapai kurikulum sehingga menyebabkan kreativitasnya terkungkung. Lamanya waktu belajar tidak berbanding lurus dengan kualitas pembelajaran. Buat apa menghabiskan banyak waktu di kelas dengan kertas-kertas kerja, bila tak bermakna. Pembelajaran berbasis Proyek yang dilakukan 1-2 jam akan terekam di memori anak sepanjang hidupnya. Ayo…para guru ubah strategi/metode pembelajaran Anda? rasakan nikmatnya melihat keseruan mereka. Itulah kebahagiaan sejati seorang guru!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s