Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

PENDEKATAN BARU BELAJAR IPS 

Refleksi Pembelajaran, 9 April 2015

By Made Nuryadi

Setelah Kurikulum 2013 di kembalikan ke KTSP, pola pendekatan belajar menjadi berubah. Pada K-13 menggunakan pendekatan tematik integratif, yaitu pendekatan yang pemisahan antara mata pelajaran tidak begitu jelas. Keutuhan konsep secara holistik menjadi fokus utama dari pendekatan ini, sehingga setiap aktivitas yang dilakukan didekati oleh berbagai mata pelajaran.

Mempertahankan kreativitas pembelajaran seperti pada K-13 menjadi tantangan disaat pendekatan kembali kepada pendekatan mata pelajaran.  Jangan sampai pendekatan berbasis aktivitas (activity base) berubah menjadi berbasis kertas dan lembar soal (paper base).  Pembelajaran di SD yang Paper Based sesungguhnya menyalahi filosofi pendidikan di SD. Mengapa? Tahapan perkembangan anak-anak di SD masih pada tahap berpikir konkret dan cendrung kinestetik. Pembelajaran yang hanya disuguhi oleh kertas-kertas kerja (soal) tentu akan terjadi pemberontakan dalam diri murid, akibatnya adalah timbulnya kebosanan, kemalasan, dan sikap acuh tak acuh dalam belajar. Disamping itu pendekatan ‘Paper Based’ sesungguhnya membunuh kreatifitas dan imajinasi anak. Terbunuhnya kreativitas anak akan menghantarkan anak menjadi pribadi yang reaktif bukan proaktif.
IMG_1382

IMG_1386IMG_1395IMG_1391Hmmmm…….Pembelajaran yang paling ngeri yang pernah saya alami di bangku sekolah yaitu  Pembelajaran IPS. Ngeri…!!! Itu mungkin kata yang berlebihan untuk mengungkapkan perasaanku. Kengerian itu diakibatkan karena Belajar IPS membuat otak stress dan panas, bahkan ubun-ubun nyaris terbakar karena belajarnya identik dengan kegiatan mengahafal sejarah yang  menurutku kurang penting kala itu.

Sebagai seorang guru yang pernah mengalami pengalaman pahit belajar IPS di bangku sekolah, aku tidak ingin muridku mengalami hal serupa. Ku coba untuk mencari cara untuk mengubah kebiasaan dan paradigma belajar IPS ini. Buku tentang Ilmu hipnoteaching yang pernah kupelajari ternyata bermanfaat untuk menjawab tantangan ini. Kuncinya yaitu pada sugestinya. Sugesti bisa berupa kata-kata ataupun aktivitas. Aku harus berhasil.

Kutanamkan sugesti ini di benak mereka “membaca buku IPS ibarat membaca buku Novel”, mudah-mudahan ini berhasil.

“Mengapa sebuah Novel selalu menarik untuk dibaca, walaupun jumlah halamannya tebal, pikirku.

Ternyata oh ternyata….Novel selalu menarik untuk dibaca karena terdapat tokoh cerita, latar, alur dan perwatakan yang jelas yang membuat sesorang menjadi tersugesti untuk menyelami ceritanya.

Oooo…Buku IPS sepertinya bisa dibuat seperti itu, bukan?. Aku akan coba menerapkannya dalam pembelajaran IPS, lebih-lebih topik kali ini kebanyakan tentang cerita sejarah.  Murid-murid kutantang untuk  menhadirkan dalam benaknya sebagai sebuah cerita yang bermakna yang memuat siapa tokoh sejarahnya, kapan terjadinya, latarnya bagaimana, mengapa terjadi, dan apa nilai-nilai yang dapat dipetik dari kisah tersebut.

Sssst….Ide pun bermunculan dibenakku”. Segera ku buatkan konsep pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Kooperative tipe JIGSAW yaitu singkatnya pembelajaran kooperatif dengan menerapkan metode tim Ahli . Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing terdiri dari 5 anak setiap kelompok. Setiap kelompok diberikan topik untuk di bahas.

Dalam perjalanan pembelajaran kucoba menggabungkan konsep ‘mind mapping’ (peta konsep) dan drama. Ilustrasi pembelajarannya kayak gini….

Setelah membaca cerita sejarah yang ada di buku, setiap kelompok diarahkan untuk membuat peta ilustrasi atau peta konsep terhadap cerita atau topik yang dibahas dalam kertas yang ukuran besar (kertas karton manila). Dari hasil peta konsep ini lah akan dibuatkan sebuah cerita yang dilakokan di depan kelas, misalnya salah satu contoh materi di buku siswa “Penindasan lewat VOC” dari topik ini siswa diarahkan untuk melihat apa hal-hal penting, kemudian membuat peta konsep/ilustrasi ceritanya, kemudian melakokannya kisah itu di depan kelas.

Menyeimbangkan peran otak kiri dan otak kanan dalam pembelajaran akan mengarahkan proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan. Mengapa Novel tidak pernah membosankan dibaca walaupun stebal 500 halaman? Ada misteri apa dibalik itu. Berdasarkan beberapa teori bahwa membaca buku-buku Novel terjadi keseimbangan kerja otak yaitu otak kiri dan otak kanan. Kerja otak kanan melibatkan hayalan, imajinasi mimpi, warna, dan bentuk. Dengan metode peta ilustrasi cerita yang memuat gambar, bentuk dan diagram akan membantu anak dalam mengingat sesuatu, terlebih lagi bila dilakokan atau dibuat dalam bentuk drama naratif. Inilah salah satu cara menyeimbangkan kerja otak kanan tersebut sehingga materi pembelajaran IPS bukan hanya konsumsi kerja otak kiri melalui kegiatan menghafal tetapi  ada proses penyimpanan informasi di ’long term memory’ melalui proses memahami.

Berikut ini adalah link sebuah video youtube yang bisa menjadi salah satu sumber informasi bagaimana menyeimbangkan kerja otak dalam proses belajar sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

https://www.youtube.com/watch?v=Rp0vK3DPT6U

Berikut ini beberapa foto hasil jepretanku ketika anak-anak belajar IPS dengan pendekatan Kooperatif, Mind Mapping dan Drama Naratif.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s