Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Pembelajaran di SD Harusnya “activity Base”, Bukan “Paper Base”

tumpukan kertasFilosofi pembelajaran di SD itu harus berbasis aktivitas (activity base), bukan berbasis kertas-kertas kerja seperti worsheet dan test (paper base). Mengapa? Karena cara berpikir anak-anak SD masih operasional kongkret, dan cara belajar mereka cendrung kinestetik. Maka metode yang harus dikembangkan di SD seharusnya berbasis proyek, berbasis masalah  dan berbasis lingkungan kontekstual. Di Kelas 5B tempat saya mengajar, saya mencoba mengembangkan konsep ini, sehingga paperless  dan nilai-nilai/karakter terinduksi secara langsung dalam aktivitas. Hemat saya, anak-anak belajar lebih enjoy, tidak berorientasi pada nilai saja, tetapi lebih kepada tangungjawab belajar secara holistik (menyeluruh).

Anak-anak di Indonesia seringkali stres, tidak peduli, bahkan acuh tak acuh terhadap tugas belajar mereka, mungkin karena dunia belajar mereka dipaksakan seperti dunia belajar orang dewasa, setiap hari kerja worksheet, PR, dan tugas-tugas yang menumpuk. Tugas boleh saja ada asalkan, menyenangkan, porsinya tepat  dan dekat dengan dunia mereka seperti tugas-tugas proyek yang melibatkan kegiatan pengamatan, observasi, diskusi, dan sosialisasi, bukan tumpukan soal-soal dan kertas kerja. Worksheet bukanlah hal yang dilarang dalam dunia pendidikan. Worksheet yang benar adalah worksheet yang memuat langkah-langkah/prosedur kerja untuk mengarahkan anak-anak melakukan sesuatu, bukan berisi soal-soal seperti layaknya lembaran test.

Banyak sekolah di Indonesia, mungkin termasuk sekolah Anda yang anak-anaknya kecapekan dalam belajar. Stress dan Capek itu muncul karena tuntutan kerja tugas yang tinggi, tanpa memperhatikan psikologi dan dunia anak yaitu “dunia bermain”.  Ketika kita memaksa dunia kita kedunia mereka yang terjadi adalah pembrontakan diri yang mengarah pada terbentuknya sikap reaktif, bukan proaktif.
Saya kadang ngeri melihat orientasi pendidikan kita sekarang (mulai dari TK sudah harus membawa tumpukan-tumpukan kertas kerja) sehingga kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah anak menjadi menurun. Kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah anak akan berkembang ketika belajar dari lingkuangan nyata mereka dengan mengalami dan melakukan, bukan dari tumpukan worksheet dan soal-soal ulangan. Belajar dengan mengamati, melakukan, membuat karya, dll itulah yang mendukung bertumbuhnya kreatifitas.
Mari kita peduli dengan kondisi anak. Jangan menyiksa/menjajah masa kanak-kanak mereka dengan apa yang kita pikirkan. Tapi, upayakan bahwa belajar adalah suatu tugas yang memerdekakan mereka, sehingga mereka bertumbuh optimal sesuai umur dan perkembangan kepribadiannya.
Tabe,…Orang tua (mungkin juga sekolah) seringkali  kurang sabar dengan “proses” belajar itu sendiri, cendrung ingin instant dan berorientasi pada “nilai-nilai”, sehingga anak kita juga menjadi anak-anak yang “karbitan”.  Anak tidak lagi menikmati proses belajar, tetapi hanya hasil akhir.

Gagal, nilai jelek, remedial adalah bagian dari proses belajar yang harus dilalui oleh anak-anak untuk membentuk kepribadiannya secara utuh. Bukankah pengalaman gagal memberikan pembelajaran yang lebih bermakna? seringkali kita gelisah ketika anak-anak kita gagal, yang berujung pada memarahi, melemahkan, dan bahkan mematikan kepercayaan diri mereka. Mari kita dukung mereka dalam kondisi apapun, sekalipun mereka gagal.

Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s