Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Ahli Geologi Masuk Kelas

4135Selasa, 5 Mei 2015 adalah salah satu momen penting bagi kelas 5B. Wajah yang penuh antusias menanti seorang Volunteer Teacher yaitu ‘Bu Selvi’. Beliau adalah salah satu karyawan PT vale yang memiliki keahlian di bidang Geologi.  Mengapa ahli geologi harus masuk kelas? Apakah Program ini adalah program ‘Vale Mengajar’?. Ibu Selvi masuk kelas untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang batuan dan tanah yang ada dilingkungan Soroako. Program ini bukan program ‘Vale Mengajar’, tetapi hanya inisiatif guru untuk mendatangkan ahli agar pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa.

Semangat dan antusias ditunjukkan oleh wajah-wajah polos murid-murid kelas 5B. Berbagai media di siapkan Ibu Selvi seperti contoh jenis-jenis batuan hasil pengeboran, video dan papan display yang dapat menambah rasa penasaran murid-murid.

“Ibu ini gayanya cukup menyakinkan juga” Kataku dalam hati. Murid-murid juga berbisik satu dengan yang lain seakan-akan berkata, “Ibu ini mau menjelaskan jenis-jenis batu Akik ya, atau jenis-jenis batuan sesuai pelajaran yang sudah aku pelajari dari Pak Made”. Tingkah laku mereka gelisah dan tidak sabar untuk segera ingin mengamati jenis-jenis batuan yang di bawa sang guru baru. Mereka adalah anak-anak yang haus pengetahuan dan harus kita difasilitasi.

Kelas tiba-tiba menjadi hening setelah aku membuka pembelajaran dengan sapaan yang menggairahkan.

“Selamat pagi anak-anak, apa kabar hari ini?, Baik Pak”, jawab mereka. “Hari ini Pak Guru kehadiran seorang tamu istimewa dengan bawaan batu akiknya”. Mereka tertawa bahagia sambil menanti sang tamu untuk menyapa mereka dan menghantarkan pembelajaran tentang batuan dan tanah.

Sambil menyiapkan slide dan LCD aku mengamati kelas tetap tenang. “Anak-anak yang baik, dan menghargai tamu” kataku dalam hati. Ketenangan mereka menunjukkan antusias dan rasa penasaran mereka dengan sang guru yang berpakaian seragam Vale.

“Selamat pagi adik-adik” demikian sapaan hangat dari ibu Selvi. Sambil memperkenalkan diri ibu Selvi menjelaskan tujuan pembelajaran.  Setelah menyapa murid-murid slide materi tentang batuan dan tanah segera ditunjukkan. Ibu Selvi menjelaskan proses pembentukan batuan, jenis-jenis batuan, dan menunjukkan beberapa sampel batuan hasil pengeboran yang dibawanya.

Sambil mengjepret beberapa moment penting, aku mengamati gerak-gerik sang guru dalam menjelaskan materi.

“Ibu ini nampaknya seperti seorang guru yang professional juga ya” Pikirku. Walaupun bahasanya masih agak tinggi bagi murid-murid SD, tapi anak-anak menunjukkan pemahaman yang baik.

Hampir 40 menit berlalu, penjelasan sang guru mendapat perhatian yang serius dari murid-murid. Tak satupun murid-murid menunjukkan sikap bermain dan tak peduli. Semua memasang telinga, dan wajah yang sumbringah seakan-akan baru menyadari bahwa daerahnya (Soroako) ternyata kaya akan material, seperti Nikel, besi, dan beberapa material lainnya.

Hmmm….Akupun baru tahu kalau tanah Soroako kaya, tapi sayang kekayaannya dibawa ke negeri Sebrang. “Semoga murid-muridku ini mampu mengolahnya sendiri 20 tahun yang akan datang”, Mimpiku sebagai seorang guru.

Setelah usai satu sesi materi tentang batuan, murid-murid di beri kesempatan bertanya. Aku salut karena mereka berani bertanya apa saja ke sang guru. Pertanyaannya pun melebihi ekspektasi cara berpikir anak SD. Demikianlah eksplorasi mereka ketika pembelajaran itu bermakna. Mereka haus akan pengetahuan. Mampukah guru dan kita orang dewasa memfasilitasinya?

Guru dan mungkin Anda sebagai orang tua seringkali mengkerdilkan rasa keingintahuan anak. Seringkali kita beranggapan bahwa mereka masih berstatus anak SD yang pengetahuannya terbatas, sehingga kita seakan-akan enggan menjawab pertanyaan yang mungkin belum cocok di usia mereka. Bu Selvi salah satu Volunteer teacher yang mampu membawa anak-anak ke imajinasinya. Hal ini terlihat dari semua pertanyaan diakomodir dan dijawab dengan baik.

Pembelajaran berbasis lingkungan yang kontekstual menjadi salah satu model pembelajaran Abad 21. Mengapa? Pembelajaran ini akan membawa anak-anak kepada kemampuan ‘High order thinking skill’ (kemampuan berpikir tingkat tinggi) dan kemampuan pemecahan masalah. Anak-anak tidak hanya sekedar belajar fakta (menghafal) tetapi mengkontruksi pengetahuan sesuai kemampuan imajinasi mereka. Inilah sesungguhnya ‘belajar yang menyenangkan’, bukan hanya sekedar hura-hura tetapi bermakna.

Kreatifitas guru adalah kunci sukses pendidikan. Apapun kurikulumnya, kreatifitas adalah harga mati. Tanpa kreatifitas maka muatan kurikulum dan pembelajaran akan menjadi kering. Filosofi belajar harus berubah untuk menghasilkan anak didik yang berkualitas. Guru harus diberikan kesempatan berkreatifitas, jangan dikekang dengan standar-standar. Pendidikan di Negara Firlandia sebagai salah satu model pendidikan icon dunia karena kebebasan berkreatifitas dikedepankan dan standar-standar dikurangi bahkan ditiadakan (bayangkan saja, anak-anak nanti mengenal test standar ketika berumur 16 tahun).

Coba bandingkan sistem pendidikan kita dengan sistem pendidikan di Firlandia pada link berikut:

http://fillingmymap.com/2015/04/15/11-ways-finlands-education-system-shows-us-that-less-is-more/

(nyaris sistem pendidikan kita “More is More, bukan “Less is More”)

Pembelajaran yang bermakna harus difasilitasi dengan resources. Soroako adalah salah satu daerah yang memiliki sumber dan fasilitas belajar yang memadai. Begitu banyak ahli yang bisa menjadi volunteer, lingkungan dan teknologi yang mendukung. Tapi mengapa orang tua masih cemas dengan mutu pendidikan? Inilah pertanyaan penting yang harus direnungkan. Apakah sekolah harus mengubah filosofi pendidikannya? ataukah guru yang kurang kreatif? ataukah stakeholder yang kurang mendukung, ataukah komplikasi dari ketiga-tiganya? Entahlah…mari kita refleksikan bersama.

Ibu Selvi adalah salah satu sosok yang peduli. Menjadi guru dan hadir di depan kelas dengan kesibukan yang padat, tentu tidaklah mudah. Tapi semangat dan keinginan sang guru (ibu Selvi) membantu membentuk mereka menjadi generasi penerus bangsa yang kompoten,  itu pasti yang menjadi semangatnya.

Mari bapak/ibu, bantu kami guru memperbaiki mereka mulai dari ruang kelas. Semoga “Program Vale mengajar” kedepan bisa terwujud. Mereka (murid-murid) butuh sosok yang bisa memotivasi.

Semoga bermanfaat.

1 Komentar

  1. Anonim

    mantap mas infonya ini, jadi bisa lebih mengetahui tentang dunia ini🙂 , Bener berpengaruh banget

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s