Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Mengetahui adalah Proses, bukan Produk.

IMG_0570IMG_0568IMG_0569IMG_0567IMG_0565IMG_0566Sungguh,  waktu untuk  menulis dan berbagai di blog  sangat minim  ditengah kesibukan yang padat seperti sekarang ini. Setelah hampir ± 6 bulan tidak memposting cerita singkat refleksi pembelajaran di kelas, akhirnya  terwujud kembali.

Entah dari mana energi yang menyulut diri. Hari ini rasanya ingin menulis walaupun singkat tentang refleksi pembelajaran yang baru saja terlewati. Semoga tulisan singkat dan gaya penulisan yang rada amburadul  ini dapat memberi manfaat dan memotivasi, minimal bagi murid-murid di kelasku.

Semangat baru hari ini, selasa 27 oktober 2015 mengantarkanku kepada sebuah tugas rutinitas sebagai guru yaitu mengajar. Kegiatan yang selalu menantang dan selalu bikin penasaran. Kelas sesungguhnya ruang untuk memerdekakan diri. Di ruang kelas saya bisa berekspresi dan bereksplorasi bersama murid-murid. Seringkali saya harus bercibaku membimbing mereka (anak-anak bintang) yang memilki impian besar.  Emmm…mereka ingin ‘mengubah dunia sama sekali baru dari sebelumnya’.

Mimpi yang luar biasa dari anak-anak bintang! Mungkin Anda juga punya mimpi sehebat mimpi mereka.

Menjadi guru yang dapat diterima murid- murid harus banyak belajar. Saya sadar, menjadi guru yang mampu menghantarkan mereka menggapai impian besar bukanlah semudah melepas balon gas (asal di lepas dari tangan, pasti terbang), itu butuh usaha dan kerja keras.

Ternyata, menjadi guru yang dapat menyenangkan hati murid-murid harus berani melawan zona nyaman diri, namun sungguh membahagiakan bila dijalani dengan hati.

Mengajar adalah seni bagi yang menikmati.  Hari ini terasa nikmat sekali!

Murid-murid sangat antusias melaksanakan metode yang coba saya ramu di kelas pada pembelajaran IPA tentang Tumbuhan hijau. Judul aktivitas pelajaran kali ini ‘What did you know?’, ‘apa yang kamu ketahui? kurang lebih begitu artinya. Aktivitas ini merupakan kegiatan pembelajaran pengayaan. Mereka (murid-murid) merangkum materi yang telah dipelajari selama dua pekan terakhir. Bagaimana bentuk rangkumannya? Apakah seperti sekolah saya jaman dulu, yaitu di suruh menulis sampai mata lemot dan tangan pegel-pegel oleh guru. Tentu tidak, kegiatannya sedikit lebih asyik karena mengakomodir gaya belajar siswa dengan kegiatan yang ‘ramah otak’

Emm…, Metode ini terbilang  metode lama tapi diramu dalam bentuk lain.  Metode yang digunakan dalam aktivitas ini adalah Cooperative  Learning (CL) dengan pendekatan “Mind Mapping”. Cooperative  Learning (CL) adalah sebuah strategi pembelajaran yang menggunakan pendekatan kerjasama. Berdasarkan teori bahwa siswa akan mudah menemukan, memahami dan mengasosiasikan  konsep yang sulit bila mereka membicarakan satu dengan yang lain. Singkatnya, CL diterapkan dalam aktivitas ini agar murid-murid saling mengiangatkan konsep yang sudah dipelajari satu sama lain, sedangkan  Mind Mapping diterapkan sebagai salah satu metode merangkum atau menyajikan konsep yang sudah dipelajari dalam bentuk diagram/skema.

Mengabungkan CL dan Mind Mapping ternyata menambah gairah dan antusias belajar murid-murid. Mungkin inilah yang disebut pembelajaran dengan “pendekatan ramah otak”. Murid-murid terlibat hampir 100%, semua murid mengambil peran masing-masing, tanpa tekanan. Mereka mengekspresikan diri lewat cerita, gambar, tulisan dan warna-warna.  Woow…memang seru! Anak-anak sampai menolak istirahat karena mau menyelesaikan Mind Mapping-nya.

Suasana yang  menyenangkan bagi anak-anak tentu bukan karena kelas yang mewah, tapi bagaimana anak menikmati proses mengkontruksi pengetahuan itu. Siswa mengambil bagian dalam proses perolehan pengetahuan. Siswa bukan objek transfer ilmu pengetahuan oleh guru.  Mengetahui adalah proses, bukan Produk. Dalam membelajarkan siswa, guru harus melatih siswa berpikir, bertanya, menceritakan kembali dan perlahan-lahan memahami bagaimana pengetahuan itu dibangun. Seperti ungkapan Ignas Kleden (seorang pakar pendidikan), “pengajaran menyampaikan pengetahuan, dan  pengetahuan akan mempertajam nalar, membentuk watak, dan mematangkan kepribadian”.

So,…hasil dari pembelajaran di kelas bukanlah produk nilai-nilai tuntas atau tidak tuntas, melainkan bagaimana membangun karakter dan pribadi peserta didik. Sebagai guru harus sadar dan jangan terjebak dengan ulangan-ulangan yang dapat ‘menjajah anak’, buatlah anak menjadi ‘merdeka dan sadar belajar’ melalui stimulus pembelajaran yang menyenangkan.

Tulisan ini adalah serangkaian  refleksi dari pembelajaran di kelas saya. Mungkin dapat mengingatkan para pembaca khususnya guru bahwa jangan terjebak dengan penyelesaian target-target kurikulum dan target bos anda semata, sementara murid-murid anda merasa bosan, jenuh dan merasa terjajah di sekolah. Sebagai guru anda harus menyadari bahwa siswa membutuhkan proses yang benar, bukan hanya hasil akhir yang berupa angka-angka yang tidak bermakna.

Tentu saya juga bukan guru ‘hebat’.  Saya guru yang juga masih banyak harus belajar dan  mencoba hal baru di kelas. Jangan berteriak-teriak menyuruh anak belajar, sementara guru tidak belajar.

Anda sebagai guru juga harus belajar, supaya bisa mengajar murid-murid dengan menyenangkan. Ayo…menjadi guru yang menyenangkan dan dapat diterima murid-murid.

Salam,

1 Komentar

  1. mantap mas infonya ini, jadi bisa lebih mengetahui tentang dunia ini ,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s