Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

BELAJAR ITU MEMBANGUN MAKNA

Refleksi Pembelajaran

20161020_07570320161020_07564020161020_09092720161020_083253 20161020_09200120161020_08073920161020_081726 Kamis, tanggal 20 Oktober 2016 merupakan hari yang sangat menyenangkan dan sekaligus melelahkan bagi kelas 5A SD YPS Singkole. Bagaimana tidak, kami harus menelusuri daerah pesisir danau Matano untuk mengamati kenampakan alam Soroako. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menyisir persawahan milik masyarakat lokal Soroako sampai persawahan di belakang perumahan karyawan di daerah pontada. Akhir kegiatan belajar kami di perkebunan jagung samping lapangan Golf milik PT vale. Perkiraan perjalanan aktivitas belajar kami sekitar 8 Km. Bisa dibayangkan kalau perjalanan kami cukup melelahkan. Memang lelah secara fisik tapi kami sesungguhnya menikmatinya.

Metode pembelajaran yang kami lakukan ini, kami sebut Pembelajaran Berbasis Proyek/Project Based Learning (PBL) dengan mengitegrasikan tiga mata pelajaran yaitu IPA, IPS dan Bahasa Indonesia. Metode ini terkesan keren, bukan?. Namun, sesungguhnya metode ini sudah jadul (jaman dulu sudah ada). Saya teringat dengan kegiatan belajar saya waktu di SD 25 tahun lalu yaitu kegiatan pembelajaran menanam ubi jalar dan kacang tanah (belajar berkebun di kebun sekolah). Kegiatan belajarnya mulai dari menyediakan lahan (membuat bedengan), menanam, memanen dan menjual hasil panen di masyarakat kampung. Kegiatan yang dilakukan guru saya jaman dulu sesungguhnya ini pembelajaran berbasis proyek yang komplet/lengkap, karena sampai memasarkan hasil panen. Nama kegiatan pembelajaran ini belum diberi label sampai sekarang oleh guru saya, tidak se keren nama metode yang ada sekarang. Mengapa saya dan mungkin anda masih sangat berkesan dengan pembelajaran seperti ini? Hal ini disebabkan karena mereka (guru saya) membangun “Makna Belajar”, bukan hanya sekedar kegiatan transfer ilmu pengetahuan.

Supaya tidak menambah rasa penasaran para pembaca tentang metode ini, khususnya anda yang se-profesi dengan saya (guru). Saya akan mengulas sedikit metode pembelajaran PBL . Metode ini menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Siswa melakukan eksplorasi, pengamatan, wawancara, diskusi, dan interpretasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

Metode PBL memberikan kesempatan kepada siswa di kelas saya untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif bersama kelompoknya. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Pembelajaran ini saya ingtegrasikan dengan 3 mata pelajaran (satu proyek untuk tiga mata pelajaran yang saling terkait). Untuk lebih lengkapnya, contoh perencanaan dapat di download pada link berikut (pembelajaran-terintegrasi-berbasis-proyek)

Anak-anak di kelas saya sangat menikmati proses belajar seperti ini. Proses belajar seperti ini hendaknya menjadi standar pembelajaran di Sekolah Dasar. Pembelajaran di SD harusnya BERBASIS AKTIVITAS Bukan BERBASIS KERTAS KERJA (LKS/Worsheet), Mengapa? Anak SD masih ada pada level berpikir operasional kongkret, yaitu mereka membangun konsep dan makna belajar dengan cara melakukan, (learning to do) dan melalui proses pengamatan langsung. Anak SD akan memahami konsep secara utuh bila di mulai dengan kegiatan pembelajaran yang kontekstual.


Lembar Kerja/Kertas-kertas kerja, atau bahasa kerennya “worksheet” (di sekolah saya), seringkali menjenuhkan siswa khususnya anak SD, karena muatan worksheet tidak mampu membangun makna belajar secara utuh. Worksheet berpotensi membangun cara berpikir yang reaktif, bukan konstruktif karena muatan worksheet belum mampu mengoptimalkan setiap potensi anak dalam belajar. Haruskah pendekatan worksheet yang berlebihan masih dibutuhkan para guru masa kini? Haruskah penilaian berbasis kertas kerja masih menjadi hal yang utama di sekolah? Apakah penilaian otentik bukan menjadi pilar sebuah penilaian? Ini adalah tantangan dan bahan diskusi bagi pemegang kebijakan pendidikan di sekolah, maupun di tingkat pemerintah.

Wah,…colotehan saya sudah terlalu jauh. Jangan sampai sebatas teori/retorika saja. Belajar itu membangun makna. Slogan ini sepertinya sangat mudah untuk diucapkan, tapi masih sangat sulit untuk dilakukan/dioperasionalkan padahal saya sudah menjadi guru lebih dari 10 tahun. Butuh passion dan komitmen yang kuat bagi seorang guru untuk mewujudkan slogan ini. Mengajar untuk sekedar mentrasfer pengetahuan hampir setiap guru bisa lakukan, lebih-lebih bila hanya mengajarkan materi di SD. Namun, tantangan yang paling berat sebagai guru adalah membangun makna belajar itu sendiri.

Sebagai guru pembelajar, mari kita gali potensi kita sebagai guru, agar “makna belajar” semakin kita wujudkan karena itulah yang akan berbekas di benak siswa. Saya masih minim pengalaman, belum cukup jam terbang. Niat hati menjadi guru sejati, itulah yang menyulut motivasi untuk selalu berinovasi dalam pembelajaran. Saya yakin begitu juga Anda.

Refleksi pembelajaran ini, hanya sebagai catatan perjalanan saya sebagai guru di dunia maya. Tulisannya masih amburadul, mudah-mudahan bisa sedikit memberi manfaat bagi para pembaca.

Salam Inovasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s