Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Tidak Harus Mall, Pasar Pun Jadi!

Refleksi Pembelajaran 29 Jan 2015

SD YPS Singkole IMG_0960Kurikulum 2013AsyikIMG_0965IMG_0972, dan menyenangkan! Itulah ungkapan yang bisa di gambarkan dari Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) berkaitan dengan materi aktivitas dan kehidupan ekonomi masyarakat di Pasar F Magani  (Pasar F Sorowako). Pasar yang biasanya dikunjungi murid-murid bersama orang tua untuk membeli makanan, minuman dan mainan menjadi kegiatan pembelajaran. Apa yang mereka lakukan? Kegiatan yang dilakukan di pasar adalah mewawancarai penjual mengenai usaha dagang yang dilakukan. Di samping itu pula murid-murid mencari informasi tentang kegiatan ekonomi apa saja yang dilakukan selain berdagang untuk mememenuhi kehidupan keluarga. Maklum di Sorowako harga-harga selangit, dan banyak masyarakat kecil yang menjerit. Kontrol harga dari pemerintah daerah tidak ada. BBM turun harga tetap tinggi. Susah….miris melihatnya….

Tujuan dari pembelajaran ini adalah untuk membangun pengetahuan murid melalui media lingkungan sekitar, memberikan pengalaman secara langsung untuk membuka pola pikir anak tentang kehidupan  ekonomi masyarakat pedagang.

Apa yang dinilai pada kegiatan ini? Pengetahuan tentang aktivitas ekonomi, dan usaha ekonomi masyarakat pedagang. Keterampilan berkomunikasi  di asah. Sikap sopan, santun, kerjasama dan tanggungjawab menjadi salah satu penilaian. Inilah yang di sebut penilaian terintegrasi antara aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Melalui pembelajaran Proyek, guru bisa melihat secara jelas potensi anak. Guru tidak lagi memberikan penilaian sebatas kognitif saja, semua aspek penilaian bisa teramati secara jelas. Penilaian di kelas cendrung penilaian ‘persepsi’ bukan Otentik. Label ke anak sangat mempengaruhi penilaian, padahal anak berubah seiring perjalanan waktu.

Aktivitas pembelajaran proyek selalu menyenangkan dan asyik bagi anak-anak. Pertanyaannya, mengapa banyak guru enggan melakukan? apakah guru takut lebih repot? entahlah…..yang pasti berikan aktivitas yang menarik dalam pembelajaran anda untuk membangun “trust” ANDA sebagai guru.

Yang di tunggu murid ANDA setiap hari bukan mendengarkan anda berceramah di kelas , melainkan aktivitas yang kontruktif untuk membangun pengetahuan mereka secara mandiri. Ayo para Guru Berubahlah….!!!!

Mereka Tampil Beda.

Bedah ikan -1

Bedah ikan -6

Bedah ikan -5Bedah ikan -3Jijik, mual dan amis Bedah ikan -2begitulah komentar beberapa anak. Bagimana tidak, anak yang hanya tahu bahwa ikan itu enak bila dicampur bumbu, sekarang harus bermain dengan ikan mentah yang baunya agak amis dan tidak sedap. Banyak anak mulanya jijik tidak mau memegang ikan tersebut walaupun sudah memakai kaos tangan. Setelah ditanya, “Nak kok gak dipegang ikannya, bagaimana  caranya mengamati anotominya?”, jawab beberapa anak, “jijik Pak”. Lalu aku terus bertanya, “bukankah sering kamu makan?”, “ia Pak, tapi jijik”. Kok bisa, kataku? Di rumah gak pernah pegang pak (sahut beberapa anak).

Hmmm…aku memegang jidat, serta merasa keheranan. Mereka sering makan dalam bentuk masakan, namun ternyata sampai umur 11 tahun masih ada juga yang belum pernah mengamati anotomi ikan. Ini momen luar biasa, pikirku! aku harus mengajarkan ke mereka bagaimana melawan kebiasaan manja mereka di rumah. Keingintahuan mereka sangat besar, tapi seringkali dibendung oleh orang tua dengan alasan ‘sayang’.  Baca lebih lanjut

Guru Sebagai fasilitator, Bukan Seorang Diktator

Menghadirkan Expert (ahli) ke Ruang Kelas

Belajar dari ibu Siska Sofita dan Dr Hery Hermas.

Pembelajaran Berbasis AhliIMG_0653IMG_0655IMG_0666Seiring dengan bergesernya pendekatan pembelajaran dewasa ini, konsep guru sebagai seorang fasilitator semakin ngetren dikalangan dunia pendidikan. FASILITATOR secara sederhana didefenisikan sebagai orang yang bertugas untuk memfasilitasi, jika kita menghubungkannya dengan peran seseorang, maka tugas kita adalah memfasilitasi kepentingan orang tersebut. Dalam dunia pendidikan, guru dituntut sebagai fasilitator artinya guru bertindak sebagai seorang yang memfasilitasi kepentingan siswa sehingga apa yang diinginkan tercapai. Dengan kata lain guru sebagai fasilitator bermakna bahwa guru juga harus berfungsi sebagai pemberi fasilitas atau melakukan fasilitasi. Guru menjadi jembatan yang baik di depan para siswanya. guru harus dapat mengajak, merangsang, dan memberikan stimulus kepada siswa agar mampu mengoptimalkan kecerdasannya dan kecakapannya secara bebas, tetapi tetap bertanggung jawab.

Bagaimana bentuk implementasinya? pertanyaan ini seringkali mengkerutkan jidat guru, karena menjadi seorang fasilitator dalam pembelajaran tidak mudah, guru harus benar-benar berani mengubah paradigma pengajaran dari lebih bersifat ‘top-down’ menjadi hubungan kemitraan. Guru dalam posisi ‘top-down’ seringkali diposisikan sebagai ‘atasan’ sedangkan siswa sebagai ‘bawahan’, adanya pola ini menggiring guru untuk otoriter, tidak pernah salah, superior, satu-satunya sumber ilmu, sarat komando dan intruksi, sementara siswa sebagai ‘bawahan’ yang harus patuh kepada intruksi guru. Baca lebih lanjut

TIPS UNTUK ORANG TUA DALAM MEMILIH SEKOLAH YANG BERKUALITAS.

Sekolah yang berkualitasLima tahun terakhir ini, saya mengamati antusias orang tua untuk melanjutkan putra/putrinya sekolah di luar (ke kota besar) cukup tinggi. Banyak dari mereka harus memilih meninggalkan Sorowako demi mendampingi anaknya. Orang tua bahkan tega untuk melepaskan anaknya yang baru tamat SD, entah apa alasannya, padahal di sekolah YPS tersedia sampai jenjang SMA, bahkan digratiskan oleh perusahaan. Tentunya orang tua punya alasan dan ekspektasi bagi pendidikan anaknya. Menyekolahkan anak di luar adalah pilihan bagi orang tua, itu hak orang tua yang harus di hargai. Penomena ini sesungguhnya mengajak diri untuk melakukan refleksi “sudah sejauhmanakah sekolah saya dapat menjawab ekspektasi orang tua terhadap pendidikan anaknya”.

Atas dasar penomena di atas, saya merasa tergugah untuk menuliskan indikator sekolah yang berkualitas, yang mungkin berguna bagi orang tua sebagai bahan pertimbangan dalam memilih sekolah bagi putra/putrinya. Tentu untuk memilih sekolah yang berkualitas tidaklah mudah, indikatornya bukan hanya tampilan luar, seperti: gedungnya megah, tempatnya strategis, dan sarananya lengkap.   Berbagai indikator harus di amati, indikator-indikator kualitas berikut ini merangkum penemuan-penemuan berbagai riset yang mempelajari keberadaan-keberadaan sekolah yang sukses. Berikut indikator sekolah yang berkualitas: Baca lebih lanjut

15 Karakteristik Sekolah Yang Efektif.

sekolah efektifDalam dua dekade terakhir, para peneliti dan praktisi pendidikan telah memberikan perhatian yang mendasar dalam mempelajari sekolah-sekolah yang efektif. Memang tidak ada indicator universal yang memang baku, saya dapat mengambil kesimpulan umum dari berbagai riset yang ada. Sekolah-sekolah yang hebat dan istimewa mempunyai karakter khusus, walaupun sulit untuk memastikan apa yang membentuk karakter-karakter tersebut. Beberapa hasil penelitian menemukan karakteristik-karakteristik berikut sebagai percontohan dari sekolah-sekolah yang sangat efektif:

  1. Kepala Sekolah berfungsi sebagai pemimpin yang memberikan pengarahan, menentukan tujuan-tujuan sekolah, dan menginspirasi bawhannya untuk mencapai tujuan tersebut. Baca lebih lanjut

Soal Latihan “RELASI DAN FUNGSI” SMP KELAS 8

Soal latihan anda dapat download di akhir ringkasan materi ini

belajar-relasi-dan-fungsi-1-638

Apa itu Relasi?

Relasi ( hubungan ) dari himpunan A ke B adalah pemasangan anggota-anggota A dengan anggota-anggota B”.

Contoh Soal Relasi

Contoh Soal Relasi

  Apa itu fungsi?

Baca lebih lanjut

Donwload Soal Ulangan Harian Kelas 5 (Tema 1-3)

Silahkan download soal Ulangan Harian (UH)  Kelas 5 di sini!

 

Tema 1 Kurikulum 2013UH Tema 1

  1. UH 1 (tema 1 Sub tema 1)
  2. UH 2 (Tema 1 Sub Tema 2)
  3. UH 3 ( tema 1 Sub Tema 3)

Baca lebih lanjut

Ulangan dengan Media Kartu, Metode ‘Rolling Game’

Kata ‘ULANGAN’ merupakan sebuah kata yang banyak mengusik telinga anak. Ulangan seringkali dianggap sebagai suatu ‘musibah besar’ yang selalu melanda, mencemaskan, bahkan membuat trauma di sekolah. Bagaimana cara agar ulangan menjadi menyenangkan dan ditunggu anak-anak? sederhana saja, jangan mengadakan ulangan dengan metode klasik, yaitu menggunakan kertas ulangan yang berisi sejumlah soal, siswa menjawab, dan mengumpulkannya sesuai waktu yang ditentukan. Ubahlah suasana ulangan anda dengan pendekatan “game”, karena kata “game” merupakan kata yang di nanti anak didik, kata ini dapat memberi sugesti positif dan  menggairahkan. Ini contoh ulangan harian berbasis game.

Ayo lakukan di kelas anda, dan rasakan bagaimana bedanya. Mari berkreatifitas untuk generasi bangsa…

Semoga bermanfaat.

Apa Kata Siswa Tentang Kurikulum 2013?

Sejak terpilihnya menjadi menteri Pendidikan, Anies Baswedan melakukan berbagai aksi blusukan ke sekolah-sekolah mengikuti gaya kepemimpinan bapak Presiden Jokowi. Blusukan ke sekolah-sekolah menjadi agenda penting bagi pak Menteri untuk meninjau langsung  implementasi kurikulum 2013 dari ‘akar rumput’ . Dari beberapa berita di media masa, seperti yang saya kutip dari  Jakarta, Kompas.com, Anies Baswedan mengatakan akan mengevaluasi kurikulum 2013. Pelaksanaan kurikulum 2013 itu pada awalnya banyak mendapat protes karena ketidaksiapan paket buku hingga beban yang lebih berat bagi siswa.

“Nanti saya akan buat evaluasi pada kurikulum 2013,” ujar Anies dalam wawancara dengan Kompas dan Kompas.com di kediamannya, Jakarta, Selasa (11/11/2014). Anies menilai, evaluasi itu akan dilakukannya dengan melibatkan mereka yang menjadi pelaksana dalam kurikulum 2013. “Yang review ini adalah guru, saya ingin komite independen guru-guru,” imbuhnya.

Membaca beberapa kutipan pembicaran dari bapak Menteri di atas, sebagai guru yang melaksanakan langsung K-13, saya merasa tergugah untuk berpartisipasi memberikan masukan melalui tulisan refleksi anak didik saya di SD kelas 5. Niat hati ingin mengirimkan tulisan anak-anak ini ke Pak Menteri, tapi setelah sekian lama menjelajah dunia maya, alamat resmi Pak Menteri belum juga didapatkan. Semoga para pembaca bisa meneruskan tulisan yang ada di blog ini.

Berikut beberapa curhatan anak didik saya tentang kurikulum 2013. Simak yuk, apa kata mereka dalam tulisan ini.

20141114_095353

Curhat Ananda Arini

Baca lebih lanjut

Soal Suplemen ” MATERI PERBANDINGAN DAN SKALA” kelas 5 (K-13)

Masalah Perbandingan Dan Skala

Kemampuan matematika anak anda menurun?

Para pembaca yang budiman, hadirnya kurikulum 2013 dengan pendekatan tematik terintegrasi di SD seringkali mengkawatirkan saya sebagai guru, mungkin juga anda sebagai orang tua. Mengapa? tampilan muatan kurikulum yang terintegrasi memungkinkan semakin menurunnya kemampuan anak dalam matematika, hal ini disebabkan karena muatan matematika kurikulum 2013 berbasis kontekstual (baca link matematika realistik pada K-13) menuntut anak mampu berpikir tingkat tinggi atau bernalar secara logis.  Kebiasaan berpikir ini masih menjadi kendala besar di kelas, sehingga tidak tertutup kemungkinan tingkat stress anak terhadap muatan pelajaran matematika semakin tinggi, terlebih lagi bila guru tidak memahami kebutuhan materi prasyarat terhadap materi yang sedang diajarkan. Mengubah paradigma dan cara berpikir anak tentang belajar bukanlah hal mudah, butuh perjuangan dan pembiasaan. Apabila guru tidak memahami cara atau metode yang tepat untuk melatih anak bernalar dalam muatan matematika, maka bisa terjadi  materi yang mengandung muatan matematika pada buku siswa akan cendrung dipaksakan, anak bisa kehilangan orientasi belajar. Kebutuhan anak terhadap materi prasyaratnya kurang diperhatikan, karena guru berfokus mengejar target penyelesaian materi.

Apa yang harus dilakukan guru di kelas? Baca lebih lanjut